Ceritanya Pak Derp hari ini sedang galau, bukan
karena cintanya yang sempat ditolak oleh Bu Derpina, lha wong sekarang sudah
menjadi istrinya, bukan juga karena sikap Herp yang kurang pintar, lha wong dia
juga sudah main jauh sama si Otong.
Pak Derp sekarang lagi dilanda oleh masalah yang
cukup pelik. Bagaimana tidak, emaknya yang kemarin-kemarin nyuruh dia ke sana –
ke sini, eh, sekarang tambah semakin tidak jelas. Emaknya sekarang malah
kebingungan mau berbuat apa, pasca dia sudah menjual peralatan rumah tangga baik
pribadi maupun sesama, sekarang dia semakin stres, entah stres tentang apa,
yang jelas sekarang dia lebih hobi menyuruh-nyuruh Pak Derp untuk memenuhi
segala hasratnya. Entah kalau masalah nafsu birahi, mungkin emak lebih suka
dengan orang sesekali pembantunya, si Hasta.
Dari kemarin malam, Pak Derp sudah sulit untuk
tidur. Entah apa yang dia pikirkan, yang jelas kepalanya sudah penuh dengan
keinginan-keinginan emaknya yang sangat berat sekali untuk dipenuhi Pak Derp
yang tubuhnya pun sangat enteng. Berbalik 359 derajat! Bayangkan, keinginan
emaknya sudah segede perut majikannya Pak Pol, sedangkan perbuatan yang bisa
dilakukan oleh Pak Derp hanya sebesar pulpen tilangan Pak Pol.
Sekarang emak seperti menikung Pak Derp. Entah karena
memang sekarang sudah jaman tikung saling tikung dan pentung saling pentung,
tapi Pak Derp sungguh kewalahan dengan tingkah emak yang satu ini. Bukan karena
Pak Derp tidak berani jika melawan emak, tapi mau bagaimana lagi? Emak juga,
kan, yang menelurkan Pak Derp sehingga menjadi ketua RT seperti sekarang? Lah kalau
mau dilawan kan namanya tidak sopan. Ya, meskipun sekarang malah Pak Prabu yang
ribet sendiri, teman Pak Derp yang satu ini memang sudah sejak lama saling
berteman. Pengakuan Pak Derp sendiri sudah sejak mereka masih sama-sama kecil,
lah wong mereka juga sama-sama dari desa yang sama, namun hanya dusun lah yang
membedakan mereka. Dulunya Pak Prabu sempat mengingatkan Pak Derp saat
pencalonannya sebagai ketua RT dusun Wancakiyah, namun, ya, gitu! Pak Derp
terlalu memanjakan emaknya, sehingga pernah menodai persahabatan antara Pak
Derp dan Pak Prabu. Tidak masalah, sih, bagi Pak Prabu saat Pak Derp berhasil
menjadi ketua RT di sana, yang menjadi masalah itu karena perangkat-perangkat
kerja yang diangkat Pak Derp itu sebagian besar dari keluarganya sendiri. Apa itu
namanya nggak nepotisme? Padahal dulu Pak Derp jargonnya juga untuk rakyat,
bukan untuk keluarganya sendiri. Tapi sekarang mau bagaimana lagi? Pak Derp
sudah jadi ketua RT, sekarang Pak Prabu jika ingin bertemu sahabat lamanya saja
sudah banyak sekali mulut-mulut warga yang menggunjing sana-sini.
Pak Prabu juga semakin bingung karena tingkah
sahabatnya itu. Sebenarnya yang jadi ketua RT itu Pak Derp atau emaknya, sih? Pasalnya,
semua kebijakan Pak Derp itu harus selalu minta izin dulu ke emaknya, iya kalau
memang diizinkan, lah, kalau tidak? Kan percuma Pak Derp jadi ketua RT jika
selalu dijegal sendiri sama keluarganya. Lama-kelamaan Pak Derp bingung, lah,
Pak Prabu malah semakin bingung lagi. Bagaimana tidak, Pak Prabu kan
hitungannya adalah sebagai rival. Istilahnya emaknya Pak Derp pernah berbuat
tidak baik ke Pak Prabu. Benar, sih, Pak Prabu orangnya pemaaf. Tapi jika
menghadapi emaknya Pak Derp yang mencla-mencle, kan Pak Prabu juga bingung
sendiri? Bingungnya lagi sekarang Pak Derp malah menggalaui Pak Prabu. Pak Prabu
kan tidak tahu apa-apa? Untung saja cuma digalaui, coba kalau sampai digauli? Siapa
yang repot coba?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.