Suatu saat di hari yang panas. Matahari terlalu
banyak mendapat fitnah akan ini. Entah apa yang ada di pikiran Otong, dia
seolah mendapat wangsit dari Sang Raja untuk segera bertemu dan bermunajat
dengan-Nya. Otong semakin bingung pula, kenapa Sang Raja begitu rindunya dengan
Otong yang biasanya hanya malam yang merindukan mereka. Namun Otong tidak menyia-nyiakan
kerinduan Rajanya, dia pun membuat suasana panas mencekam ini menjadi malam
yang begitu malang.
Bermacam-macam cara Otong lakukan. Mulai dari
mencari-cari hal-hal konyol itu.
Otong mengorbankan setiap detik waktunya yang
berharga untuk menemukan sesuatu yang hitam, sesuatu yang bisa menjelmakan
malam untuknya.
Waktu semakin berputar. Atas kuasa Sang Raja,
waktu di hari itu sangat panjang sekali. Dan Otong belum menemukan apa yang dia
cari. Dia bingung dengan kehidupan dan permintaan Rajanya yang sangat tidak
sinkron dan berhubungan. Namun dia sebagai penghamba yang baik, dia terus
memperjuangkan apa yang Raja inginkan.
Sampai pada suatu saat, saat dia sendiri akan
frustrasi dengan perbuatannya. Dia ingin menyerah dan mungkin sesegera untuk
meminta maaf kepada Rajanya. Mungkin dia akan mengalah pada waktu, yang
mengundang malam itu sendiri dan menghanyutkan Otong ke lautan malu yang
sungguh hina untuk dimasuki.
Dia memutuskan untuk pergi ke istana Sang Raja dan
meminta maaf di sana. Dia tidak menghiraukan apapun yang akan terjadi padanya,
yang jelas dia sudah berusaha untuk meminta maaf karena tidak bisa menghadirkan
malam dengan lebih cepatnya. Dia berangkat dengan motor hijau dan baju merah
kesayangannya. Dengan kopiah yang ditutupi dengan helm hitamnya, dia segera
menyusuri jejalanan untuk segera sampai di istana Sang Raja.
Otong sangat menikmati perjalanan itu. Dia tidak
begitu memikirkan lagi apa yang akan dilakukan Rajanya untuk dirinya karena
keteledorannya. Dia melihat-lihat pemandangan di sampingnya, menghijau seperti
menyatu dengan motornya. Dia menengok dan mendongakkan kepalanya ke atas,
begitu memerah Sang Surya itu seperti menyatu dengan bajunya. Dia sungguh
mengibaratkan dirinya sedang bersetubuh dengan alam.
Di beberapa kilo meter dari tempat tujuan. Ada
sesuatu yang tidak beres, dan karena Otong terlalu menikmati acara
bersetubuhnya, dia tidak melihat dengan jelas sesuatu dan akhirnya ;
Braakk . . .
Dia menabrak sesuatu yang sedang berada di
depannya.
Dia mengutuk-ngutuk dirinya sendiri. Dasar!
Dia turun dan segera mengecek apa yang sebenarnya
terjadi.
“Ini ada acara apa, Mas?” tanyanya ke salah satu
orang yang sedang asyik menikmati suasana itu.
“Oh, ini, lagi ada pertandingan, Mas,” jawab
pemuda itu singkat.
Otong semakin bingung, pertandingan apa yang
dilakukan di jalan yang besar ini?
Dan dia pun akhirnya bertanya lagi.
“Pertandingan apa, Mas?”
“Ini lho, lihat sendiri! Jangan ganggu aku terus,
nanti aku kelewatan,” jawab pemuda itu sembari mengacuhkan pandangannya ke
Otong.
Tak perlu diperintah lebih lanjut, Otong langsung
menyingkap kerumunan itu untuk bisa menyaksikan pertandingan yang ‘katanya’
sangat seru. Banyak sekali memang kerumunan ini, sampai Otong kebingungan dan
hampir terinjak-injak oleh orang-orang yang sedang menikmati pertandingan itu.
Otong sesak nafas di tengah perjalanannya, tidak pelik memang, karena di
barisan terdepan banyak sekali orang-orang yang bertubuh tak wajar alias
terlewat gemuk sedang menikmati pertandingan itu. Otong semakin penasaran atas
keberadaan orang-orang itu.
“Ini pasti pertandingan yang sangat seru
sekali!” gerutu Otong
yang semangatnya semakin terpompa.
Dia menyingkap-nyingkap lagi kerumunan manusia
besar itu. Gencet sana – gencet sini.
“Sudah seperti anak-anak saja orang-orang
ini, tidak mau mengalah!” gerutu Otong lagi karena sudah terlalu bonyok wajahnya karena sikutan-sikutan
orang-orang itu, tetap saja tidak mau memberikan jalan.
Tapi Otong tidak mengalah begitu saja, dia terus
menyingkap orang-orang itu untuk menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri
pertandingan itu.
Dia mendengus puas karena sudah berada di barisan
paling depan pertandingan itu. Dia masih mengambil beberapa nafas kecil sebelum
melihat secara langsung pertandingan itu.
“Astaga! Ini sih, kasihan!”
Sontak Otong langsung histeris saat melihat
pertandingan yang katanya hebat itu. Dia melihat pertandingan yang menurutnya
bukan seru, tapi lebih ke penyiksaan yang sudah direncanakan. Dia melihat lima
ekor cicak-cicak kecil melawan satu kebun banteng dan buaya.
Dia sedikit kesal dan sebal. Dia kasihan kepada
Sang Surya yang selalu mendapat fitnah beberapa hari ini. Ternyata tidak Sang
Surya yang membuat ini semakin panas, tapi mungkin karena ini, karena
pertempuran yang membuat ini semakin memanas.
“Kenapa kamu ke sini, Tong?” sapa seseorang yang
berada tepat di belakang Otong.
“Eh, Pak Pol. Ke sini juga nonton pertandingan?”
jawab Otong sekenanya.
“Ya iya lah, Tong. Bagaimana? Seru, kan?”
“Mani Cacing! Seru apanya, Pak? Itu sih lebih ke
penyiksaan namanya!”
“Ini seru, Tong. Lihat itu yang paling gendut
sendiri?” elak Pak Pol sambil menunjuk sesuatu.
Otong menganggukkan kepalanya. Tanda paham.
“Itu bosku, Tong. Gendut, kan? Tapi dompetnya
lebih gendut lagi, lho!”
Otong hanya geleng-geleng melihat itu.
“Kamu tahu siapa penyelenggara pertandingan ini?”
tanya Pak Pol lagi.
Otong seketika langsung berpikir, dan sekitar lima
puluh lebih tebakan yang akhirnya berbuah salah semua.
“Kau lihat yang di atas sana?” tunjuk Pak Pol lagi
ke sekelompok orang yang sedang takzim melihat pertandingan itu dengan bersorak-sorak
di atas podium mewah. Satu tingkat lebih mewah di bawah mahligai Rajanya.
Otong kali ini langsung kaget dan pingsan. Tidak
lain tidak bukan, ternyata yang berada di sana adalah orang-orang yang memang
sudah dikasih amanat oleh Raja untuk menjadi pemimpin bagi Otong. Tubuhnya
langsung digusur karena dinilai ‘menjijikkan’ di arena tersebut. Kemudian
dilemparlah tubuh Otong oleh orang-orang gendut itu. Dan pertandingan itu
berlangsung sangat lama sekali, dan hanya anak yang tangkas dan juga pemberani
yang bisa menjawabnya. *sambilnyanyi*
Lamongan, 27 Januari 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.