Otong sudah kesal dengan acara televisi yang
membosankan. Setiap kali dia melihat acara-acara di televisi, serasa dia berada
di Kebun Binatang Surabaya melihat hewan-hewan lucu dan ganas yang sedang
berakrobat. Tidak bisa dipungkiri memang, Otong hanya seorang tunawisma yang
menyambung hidup dengan apa yang ada di hadapannya.
Di suatu malam yang dingin, dia memutuskan untuk
mematikan televisinya dan ikut nongkrong di Pos Ronda di kampungnya. Kebetulan
sekali di sana ada Joko yang sedang bernyanyi-nyanyi tidak jelas dengan
gitarnya. Tidak perlu di suruh, Otong langsung mengagetkan Joko dari belakang.
Joko tak ayal pun langsung berjingkrak dan hampir saja mengepruk Otong dengan
gitarnya.
Otong tertawa keras sekali sampai-sampai Joko
menutupi kedua telinganya dengan sepuluh jari.
“Lu ini kenapa? Malam-malam bukannya jalan-jalan
bersama istrimu malah nyanyi-nyanyi tidak jelas di Pos Ronda. Haha.” ejek Otong
dengan nada yang sepenuhnya menyindir.
"Asu lu, Tong!” jawab Joko pendek.
“Apa jangan-jangan duit setoran kurang? Jadi, lu
nggak dibolehin bini lu buat tidur di rumah? Haha.”
“Jancok!” Joko menjawabnya dengan sebal.
Sedangkan Otong malah tertawa sangat nyaring
sekali. “Haha.”
“Daripada lu galau-galau nggak jelas kayak gini?
Main catur aja, yuk! Gue juga Boen di rumah, acaranya nggak ada yang bermutu.”
Ajak Otong setelah puas menertawakan Joko yang mendengus sebal. Sebal sekali.
“Ya sudah, ayo!” Joko menaruh gitar bututnya dan
segera menyambar papan catur yang tepat berada di sampingnya.
Kemelut pertandingan pun dapat dirasakan kedua
belah pihak. Otak Otong sudah mulai panas, dan begitu pula dengan kepala Joko.
Sudah hampir satu jam pertandingan itu dimulai, dan belum juga ada pemenang dan
yang kalah. Beribu kali strategi-strategi andalan Otong sudah diluncurkan,
namun setiap kali strategi itu diluncurkan selalu mendapat perlawanan dari
Joko. Pun demikian dengan Joko, semua strateginya sudah dilibas habis oleh
Otong.
Malam pun semakin larut. Bintang-gemintang sudah
fasih memenuhi langit yang selalu gelap. Padat. Waktu merayap ke sela-sela mata
Otong. Angin berdesir lembut melewati batas-batas intens Joko. Mereka mulai
diserang rasa kantuk yang begitu hebat. Namun pertandingan ini tidak boleh
mereka sia-siakan. Kedua kubu berupaya sangat untuk menang, dan malam pun
berupaya sangat untuk membuat mereka tumbang.
“AYO BANTENGKU! LIPAS MEREKA!!” teriak Joko
nyaring. Sangat keras sekali sampai membuyarkan konsentrasi Otong. Otong
bersungut-sungut dalam hal itu. Dia mengutuk-ngutuk Joko dengan seringai tipis.
“Eh lu! Mana ada buah banteng di sini, hah?” toyol
Otong.
“Lah ini?!” jawab Joko sambil menunjuk sebuah anak
catur yang sangat Otong kenal bahwa itu bukan banteng.
“Bodoh! Sejak kapan banteng bentuknya begitu?
Panjang sendiri dan punya mahkota? Banteng juga nggak bisa main catur. Bego,
Luk,” Otong menoyol Joko untuk ke sekian kalinya. Dia sungguh bersungut-sungut
karena perlakuan Joko tadi. Telinganya masih dipenuhi oleh bunyi nyaring Joko.
“Wah, lu nggak pernah update berita, sih.
Tadi itu di televisi, ada perubahan aturan bermain catur, dan aturan itu
meliputi pergantian nama-nama buah di papan catur,” jawab Joko menerangkan,
gayanya yang berlagak seperti guru senior membuat Otong semakin muak dengan
muka Joko yang hanyut dalam kelam malam. Menghitam tanpa sekat.
“Waduh, jadi perubahannya gimana, Jok?” jawab
Otong. Dia memasang wajah penasaran.
“Kata panitia catur se-dunia, sih, gini ; pokoknya kita harus berkamuflase dengan
kehidupan kita sehari-hari. Jadinya kalau di sini, yah, buah raja ini namanya
diganti menjadi buah banteng, sedangkan yang permaisuri diganti jadi buah
buaya, gitu, dan seterusnya deh yang penting lu suka,” jawab Joko panjang
lebar. Gayanya memang tidak bisa lepas dari kata nyentrik dan ‘mlete’.
“Owalah, gitu, yah? Bagus dong kalau gitu, jadi lu
juga harus buat buah tambahan, Jok. Kan secara pion lu cuma delapan. Harusnya
sih delapan ratus atau delapan juta,” komentar Otong membenarkan.
“Oh, iya, yah! Ya udah, gue mau buat buah-buahnya
nanti aja, sekarang kita lanjutin dulu permainannya.”
Kedua belah pihak sepakat untuk melanjutkan
permainan itu, Otong dan Joko pun takzim saling pandang, kedua kubu itu
berseteru dengan hebat. Sudah seperti acara gosip yang memprovokasi dua belah
kubu yang pakaiannya serba putih dan berkopiah dengan yang satunya lagi berbaju
kotak-kotak merah tanpa kopiah. Kira-kira seperti itu perseteruan mereka,
meskipun pertandingan Otong dan Joko pun aslinya sangat jauh lebih seru dan
menantang.
Keduanya masih bingung untuk melangkah. Masih
bimbang dengan peraturan-peraturan baru lainnya yang diberikan oleh panitia
catur se-dunia.
Mereka masih sama-sama diam. Waktu kembali ke jaman
dimana mereka sama-sama diserang kantuk yang sangat hebat. Joko sudah kembali
mengantuk, matanya berkedip lama sekali. Sedangkan Otong masih
mengerjap-ngerjap tanda kantuk juga sudah menguasainya.
“AYO CICAAAAAKK, LIBAS MEREKAAAA” bentak Otong
dengan semangat empat limanya, sontak Joko pun kaget dan terpental dari
tempatnya semula.
Kemudian Pos Ronda tersebut ramai akan
pertandingan antara cicak melawan buaya dengan banteng. Entah siapa yang
menang, entah pegangan Otong atau Joko.
Malam semakin meninggi, dan mereka pun belum
tumbang.
Lamongan, 28 Januari 2015.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.