Assalamu’alaikum.
Salam sejahtera, Teman-teman!
Jumpa lagi bersama saya, penulis yang tidak punya
sopan santun dan tidak punya adab menulis.
Kali ini saya hadir dengan bahasa yang sedikit
berbeda. Mungkin sedikit lebih mengabaikan EYD dalam KBBI. Mungkin karena
tulisan saya selalu garing dan lebih ke ego seorang penulis berandal. Mungkin
saya akan belajar sedikit bergaul dalam menulis. Tentunya masih menggunakan EYD
dalam KBBI meskipun terbilang sangat-sangat sedikit. Sedikit saya mungkin akan
masih terbilang banyak bagi seseorang. Karena apa daya, saya suka Bahasa
Indonesia, jadi saya harus melestarikannya.
Langsung saja ke topik awal!
Saya akan membicarakan tolak ukur yang biasanya
dijadikan ukuran bagi para pengukurnya *apasih?*. Dengan kata lain, saya akan
membicarakan Passing Grade (PG) untuk Seleksi Bersama Masuk
Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), atau yang dimudahkan menjadi tolak
ukur untuk bisa lolos di SBMPTN.
Pernah tidak kalian (khususnya para pejuang SBMPTN
atau veterannya) menanyakan paling tidak pada diri sendiri. Apa benar PG itu
memang benar adanya dalam SBMPTN?
Saya pernah menanyakannya, dan saya rangkum
jawaban-jawaban internal dan eksternal melalui dua versi yang berbicara tentang
hal ini.
Pertama, Kakak kelas saya pernah bilang waktu ada
pengadaan Expo Campus di sekolah saya dulu. Dia sekarang kuliah di salah satu
perguruan tinggi negeri terfavorit *katanya* di salah satu kota Bogor. Dia
gagal lewat jalur SNMPTN, dan pula dengan jalur SBMPTN. Dia masuk ke sana
melalui jalur mandiri yang diadakan kampus tersebut. Memang sedikit nggak
nyambung, sih, dengan topik yang dia ucapkan sendiri. Secara notabene, dia
adalah ‘yang gagal’ dalam SBMPTN dan malah membicarakan tentang SBMPTN itu
sendiri. Namun saya sebagai adik kelas yang baik kala itu, hanya diam dan
mengangguk. Saya paham betul apa yang dia bicarakan. Inti menurutnya, PG itu
tidak sebenarnya ada, kenapa dia bisa bicara seperti itu? Karena dia
mengkritisi keberadaan PG itu sendiri. Passing Grade merupakan suatu
acuan yang ‘memang’ dibuat untuk menjadi pemfokus seseorang dalam mencapai
target. Dan dalam SBMPTN, biasanya seseorang yang bertanggung jawab dalam
penentuan PG adalah bukan dari rektor atau dewan kemahasiswaan di salah satu
perguruan tinggi tersebut. Melainkan pihak ketiga yang biasanya memang sangat
berkontribusi dalam perguruan tinggi tersebut. Tapi meskipun pihak yang sangat
berkontribusi dalam perguruan tinggi atau kampus tersebut, tetap saja bukan
orang yang berwewenang tinggi dalam kampus, bukan?
Memang hadirnya PG sangat membantu para calon
mahasiswa baru untuk lebih fokus terhadap belajarnya, lebih fokus ke apa yang
mereka targetkan tanpa harus mempelajari hal-hal yang tidak penting dalam
pencapaian PG itu sendiri. Dan tentunya, fokus membuat calon mahasiswa baru
akan lebih siap dan mudah untuk menembus dan memasukinya dengan mudah, dan
alhasil mereka ‘kebanyakan’ akan lolos dalam SBMPTN.
Kedua, seseorang yang menganggap bahwa PG memang
benar adanya adalah saya sendiri. Kenapa demikian, pembahasannya tidak jauh
berbeda dengan yang pertama. Anggap saja memang PG itu tidak ada, saya juga
demikian pertama kali mendengar kata Passing Grade. Namun, apalah dikata
saya hanya seorang pelajar yang dulu sangat berambisi untuk lolos di SBMPTN,
saya harus punya tolak ukur untuk bisa mengontrol belajar saya. Dan saya
mempercayai atau menganggap ada istilah PG itu sendiri, dengan demikian, saya
melihat PG yang akan menentukan saya untuk lolos SBMPTN, dan saya belajar
sampai target saya tercapai, dan Alhamdulillah, alhasil saya memang lolos
SBMPTN. Walaupun, akhirnya SBMPTN saya tinggalkan dan lebih memilih kuliah di
kampus yang saya tempati saat ini.
Sekedar tips saja buat adik-adik para pejuang
SBMPTN atau bahkan veteran yang ingin mencoba lagi SBMPTN. Tidak usah belajar
yang serius! Santai saja karena memang otak ada kapasitasnya masing-masing.
Tetap belajar dengan tenang, kalian bisa percaya atau tidak tentang keberadaan Passing
Grade tersebut, tapi kalian tetap harus punya acuan atau tolak ukur untuk
belajar, tidak lain tidak bukan hanya untuk memastikan dan membantu agar lebih
mudah meraih apa yang harus diraih.
Itu saja ulasan dari saya, semoga bermanfaat. Dan,
terima kasih.
Salam sejahtera.
Wassalamu’alaikum.
Lamongan, 20 Januari 2015.

mampir juga diblogku gan http://masakiniblog.blogspot.com/
BalasHapusmakasih gan atas kunjungannya :)
Hapus