Itu tepat di hari minggu. Hari dimana semua orang
mempunyai hak prerogatif untuk memanjakan dirinya sesuai yang mereka inginkan.
Entah itu bermalas-malasan karena setiap harinya sibuk, atau bermalas-malasan
yang memang setiap harinya sudah malas.
Otong termasuk ke kategori nomor dua. Ya, memang
Otong tidak bekerja alias bahasa bekennya adalah tunawisma.
Setiap hari Otong hanya mondar-mandir mengelilingi
desa Wancakiyah dengan sepeda motor hijaunya. Dengan gaya yang selalu
mainstream dan tidak pernah berubah, dia menjalani hobinya tersebut dengan
damai dan bahagia. Ya, meskipun ada saja Pak Pol yang selalu meminta jatah
damai, tapi setidaknya Otong merasa bahagia. Merasa.
Minggu ini Otong sedikit bangun pagi, lebih pagi
daripada hari-hari sebelumnya. Jam tujuh. Tidak biasanya memang Otong membuka
hari dimulai dari jam tujuh, tapi kali ini beda. Dia mendapati sebuah misi yang
sangat penting, yang menyangkut harga diri dan hidup matinya. Disuruh Emak ke
pasar buat belanja.
Otong santai-santai saja menjalani misi itu,
sekalian juga merenggangkan otot yang sudah kaku sejak lahir. Sebenarnya tidak
hanya itu yang membuat Otong menjalani misi itu dengan baik-baik saja. Sekarang
hari minggu, bukan? Itu artinya banyak sekali gadis-gadis cantik yang sedang
joging, atau hanya sekedar ‘nampang’ menikmati udara pagi yang sehat dan bebas
polusi.
Setelah minggu kemarin bundaran 1cak dipenuhi oleh
orang-orang demo karena cicak-cicak di rumahnya habis entah kemana. Harusnya
senang memang, kalau kehilangan cicak-cicak itu melalui tahap yang wajar.
Mereka menghilang begitu saja, satu per satu. Seperti dibantai tapi entah siapa
yang membantai, semuanya tutup mulut. Bahkan bapaknya cicak pun acuh tak acuh
dalam masalah ini. Dan akhirnya warga berbondong-bondong ke bundaran 1cak untuk
demo, meminta pertanggungjawaban Pak Derp. Karena memang mereka kira, buaya Pak
Derp-lah yang membantai cicak-cicak itu. Aneh memang, dari dulu, ketua RT yang
hobi memelihara binatang ya hanya Pak Derp. Ketua-ketua terdahulu tidak ada
yang memelihara binatang, malah Pak Derp tidak nanggung-nanggung kalau ingin
memelihara, dia langsung memelihara banteng hitam liar dan buaya. Sungguh
gereget memang ketua RT ini. Alhasil, tidak ada yang berani dengannya, semuanya
bersungkan-ria, bahkan semena-mena dengan desa tetangga.
Balik lagi ke rutinitas Otong di minggu ceria ini.
Dia baru sampai di setengah perjalanan ke pasar. Memang dia mengemudi dengan
pelan, biar bisa lirik-lirik gadis-gadis cantik yang siapa tahu mendapat restu
dari emaknya.
Pasar sudah dua pelemparan batu. Dan Otong
terlihat seperti sudah tidak sabar untuk membeli belanjaan-belanjaan dan segera
pulang. Dan tidur lagi.
Setelah tiga jam berputar-putar di dalam pasar
itu, Otong akhirnya sampai di belanjaan yang terakhir. Emaknya mendapat pesanan
membuat jenang buah, jenang buah emak Otong memang sudah terkenal sampai
luar-luar desa, dan tak heran jika sekarang Otong harus membeli buah-buahan
yang sangat banyak sekali.
Dia melangkah ke jajaran toko buah, dia
menginvestigasi pedagang-pedagangnya seperti sedang menyelidik mafia ganja.
Otong melakukan hal itu, sampai akhirnya tidak ada toko yang mau melayaninya.
Siapa yang tidak takut jika diperlakukan seperti mafia? Memang terlalu pintar.
Sampai di toko yang terakhir. Otong memuji-muji
pedagang tersebut, dia tidak mau pulang dengan tangan kosong tanpa buah,
bisa-bisa buah zakarnya dikebiri emaknya buat dijadikan jenang. Aduh, Mak!
Otong belum kawin, Mak. Ngilu, Hih!
Semuanya sudah dikantonginya. Mulai dari nanas,
semangka, melon, bahkan buah ciplukan yang memang menjadi favorit semua orang.
Dia segera bergegas pulang dan istirahat. Sudah tidak sabar pula mencicipi
jenang buatan emaknya. Otong sudah lapar, dia memegangi perutnya terus dari
tadi.
Setelah sampai di rumah, Otong mengeluarkan semua
belanjaannya dan menyuruh emaknya untuk mengabsen satu per satu belanjaan,
mungkin ada yang dirasa kurang atau malah kelebihan.
Dari atas sampai bawah sudah emak sebutkan dan
Otong yang menunjukkan. Sudah pas dan semua masuk karung. Tapi emak sedikit
tidak enak perasaannya, seperti ada yang kurang memang, tapi apa, yah? Otong
juga bingung, dia kira semua sudah dia beli. Kecuali,
“Oh iya, Mak. Otong lupa beli apel, Mak!” sahut
Otong sambil menepuk jidatnya. Teledor banget. Siap-siap mendapat jurus oceh
seribu bibir dari emak. Mampus dah!
“Kenapa elu sampek lupa, Tong? Itu kan buah
favorit pelanggan nomor satu,” jawab emak sambil menoyol kepala Otong.
“Ampun deh, Mak. Tapi ini juga demi kebaikan usaha
Emak,” jelas Otong.
“Maksud lu apa, Tong?” tanya emak kasmaran. Eh,
penasaran.
“Tadi Otong dengar dari pedagang-pedagang buah di
pasar, katanya apelnya sekarang lagi nggak baik, gitu,” jelas Otong
panjang lebar.
“Nggak baik bagaimana maksud lu, Tong?”
tanya emak semakin kepanasan. Eh, penasaran.
“Nggak tahu juga, Mak. Mungkin lagi difitnah
sama si Sam*ung,” jawab Otong pendek.
“Otoooong. Dasar, Sempak Naga! Itu kan merek,
Tong, bukan buah beneran!” emak emosinya meledak-ledak sampai akhirnya hujan
Ap*le dimana-mana.
Lamongan, 29 Januari 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.