Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam Sejahtera, Teman-teman!
Kembali lagi bersama saya, penulis yang
tak pernah punya etika bahkan tata krama.
Kalau kemarin, puisi yang sempat terbesit
idenya di tempat yang sangat fenomenal sekali yaitu di WC. Sekarang puisi ini
dibuat di tempat yang lebih cocok dijadikan tempat paling inspiratif dibanding
WC. Ya, di tempat tidur, pembaringan yang menjelma sebagai mesin waktu dimana
bisa mengantarkan jiwa ini melayang ke berbagai tempat yang diinginkan bila
perlu *alay*.
Sedikit catatan, sih, tentang puisi yang
satu ini. Puisi yang satu ini tidak dibuat secara main-main. Bisa disebut
sedikit spesial juga karena memang buat orang yang sedikit spesial *ciye*.
Jangan berpikir buruk dan negatif dulu, puisi ini untuk teman yang bisa
dibilang lebih dari teman, dalam artian masih tetap sahabat. Mungkin dia
sahabat yang tidak seperti sahabat, sering bertengkar juga, musuhan juga, tapi
tetap saja menarik. Sampai akhirnya tergugahlah hatiku untuk membuatkan sebuah
puisi di hari ulang tahunnya kemarin.
Langsung saja dan inilah tulisannya :
Seperti pudarnya kesengsaraan dari dasar mentari
Anggunmu tak pernah tersaingi oleh semua materi
dari dalam bumi
Nasibmu sebaik angan yang menebar melewati embun
pagi
Gelisahmu seelok rona yang selalu tercetak manis
di kedua pipimu
Gundahmu semakin membuat kedua pipi itu tak pernah
padam dari merah tersipu-sipu
Untaian kata demi kata ini
Nestapa hadir bak cambukan maafku tak bisa
menjemputmu
Indah sudah fasih aku ucapkan hanya untukmu
Senyum sudah fasih aku dapatkan dari potret yang mungkin bukan hanya kau
untukku
Manis sudah fasih kau simpulkan saat bibirmu merekah, tersenyum bahagia
Anggun, sekali lagi namamu menafsirkan ayat-ayat Tuhan tentang keindahan
Yang mungkin kau tak begitu fasih menjalaninya dalam romansa kehidupanmu
Alangkah indahnya jika kau bisa menafsirkannya dengan lebih fasih
Lebih fasih dari nyiur yang melambai melalui alunan musik kalbu
Oh, wejanganku terlalu biasa untuk gadis seanggun-anggunnya Anggun
Maaf, kawan yang mungkin lebih tepat dengan sahabat
Indah kataku, hanya sebatas hasrat untuk membelai hitam rambutmu, untuk
menyalurkan bisikan kalbuku padamu
'SELAMAT ULANG TAHUN, SANGGUN ISMAYALOMI'
Salam Sejahtera.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Lamongan, 18 Januari 2015.


aku terharuuuuuu :')
BalasHapus