Akronim "Kholishotul M"

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera, Teman-teman!
Bertemu lagi bersama saya, penulis yang tak pernah punya sopan santun untuk dijadikan penuntun.
Kalau puisi yang satu ini buat seseorang juga, tapi yang jelas itu hanya teman, lebih tepatnya ‘teman ngajar’ *stopciyee*.
Dia juga lagi ulang tahun tapi sudah sedikit lama, sih. Tapi puisi itu abadi dan tidak ada yang bisa mengubah kadarnya. Jadi, selalu indah untuk dinikmati kapan pun dan dimana pun.
Dia, sih, sepertinya senang banget waktu aku kasih puisi ini. Jadi, langsung saja nikmati :


Kidung-kidung itu, mereka yang mengalunkannya
Hadiah-hadiah itu, mereka yang memberikannya
Orang-orang itu, iya, orang-orang itu
Lihatlah mereka yang membentuk formasi indah
Indah seperti matamu yang selalu nanar bersinar
Seperti mentari yang tak pernah lupa kepada sang siang
Hidup yang tak pernah lupa kepada sang ajal
Orang yang tak pernah lupa kepada sang fajar
Tiap-tiapnya yang menyebut namamu bak zikir fida’ dalam lautan hina
Untaiannya yang memanggil namamu bak selorohan kaum nista dalam gelombang sengsara
Lihatlah, mereka masih menikmati harimu yang bahagia
Menikmati segala jengkal keistimewaan yang tertanggal dalam usiamu
Dua puluh enam menjadi delapan saat ditambah, tanda kesolidan yang tak pernah putus
Desember bulan yang indah, dan tentunya menghanguskan apa yang akan hangus
Sembilan puluh lima, angka yang menarik untuk gadis yang semangatnya tak pernah putus

Salam sejahtera.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Yogyakarta, 12 Desember 2014.

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.