Swasta. Why Not?

Jika ada seleksi orang paling bodoh di dunia, mungkin Misbahul Munir menduduki posisi teratas untuk orang yang beruntung sekaligus bodoh. Tapi, itu hanya jika semua jurinya lulusan perguruan tinggi negeri. Kenapa? Monggo disimak!
Siapa sekarang yang tidak ingin meneruskan jenjang pendidikan teratas dan tergengsi di salah satu perguruan tinggi favoritnya? Tak usah ditanya, semua pasti akan menjawab jika perguruan tinggi favorit tersebut adalah perguruan tinggi yang sudah berlabel ‘Negeri’. Apapun alasannya, pasti mereka menjawab demikian. Tak lain tak bukan, saya juga dulunya memang sangat mengidam-idamkan yang namanya perguruan tinggi negeri. Haha. Saya sekarang tertawa. Tanya kenapa? Baik, saya jawab!
Pertanyaan saya adalah, apa yang kalian idamkan dari perguruan tinggi negeri? Gengsi?
Saya tidak menyalahkan niat kalian yang sangat amat begitu mulia. Memang orang tepat harus ditempatkan di tempat yang tepat pula, bukan? Tapi kenapa harus negeri?
Saya sudah sering bertanya ke teman-teman yang sekarang kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri. Banyak sekali macam jawabannya, banyak sekali. Tapi, saya ringkas ke beberapa kalimat, di antaranya memang sudah tepat jika ditinjau dari segi bakat dan minatnya, dan yang kedua, tak lain tak bukan adalah karena gengsi.
Padahal, kampus swasta mana yang tidak kalah bergengsi dibanding kampus negeri? Jangan tanya berapa, saya mungkin butuh beberapa hari untuk menuliskannya beserta rinciannya.
Oke, baik. Saya di sini akan menjadi pihak tengah yang tidak akan condong ke salah satu sudut untuk menilai tentang sebagus mana kampus negeri sehingga banyak diminati, dan sehina apa kampus swasta sehingga harus mendapat jatah paling terakhir sebelum akhirnya sang pemilih merasa putus asa.
Mulai dari masalah biaya, kampus swasta terpinggirkan dari dunia pendidikan. Saya bisa jelaskan kenapa swasta terkenal dengan biaya yang melambung jauh, terbang tinggi, bersama mimpi, dan menimbulkan ilusi yang tidak jelas *nah loh?. Oke, balik lagi. Tanya kenapa? Sekarang hanya orang bodoh dan tidak bisa menghitung yang membandingkan kampus negeri lebih murah dibanding swasta. Tanya kenapa? Ya jelas lah, jika mereka hanya tahu hasil jadi dari pembayaran akhir. Lebih tepatnya, karena kampus negeri sudah mendapat beberapa bantuan yang langsung diberikan oleh pemerintah melalu label ‘Negeri’nya. Ini salah satu bentuk omong kosong pemerintah yang katanya ingin menyetarakan pendidikan di seluruh Indonesia. Perumpamaan kecilnya seperti, swasta itu anak kandung tapi terpinggirkan sehingga merasa dirinya itu hasil dari Kampang (baca : anak haram). Tak usah disangkal pendapat ini, ini sudah jelas sekali kebenarannya. Apa buktinya? Tiap tahun pemerintah mengadakan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) yang jelas-jelas di sana ada kata ‘Negeri’. Bukannya ini salah satu tindak diskriminasi pendidikan? Padahal semua kampus yang lahir di Indonesia harusnya mendapat perlakuan sama. Dan juga kampus negeri punya sistem khusus yaitu Uang Kuliah Tunggal (UKT), dimana biaya per semesternya mengacu pada kondisi keluarga mahasiswa itu. Tapi, UKT murah sekali lagi hanya dimiliki oleh mahasiswa yang masuk dari jalur khusus, jika masuknya mandiri? Tidak menutup kemungkinan malah lebih mahal dibanding kampus negeri. Saya sudah buktikan ini, tepatnya mahasiswa satu kelas saya yang sebelum masuk kampus swasta, sempat masuk kampus negeri lewat jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), dan alhasil, biaya kuliah dan masuknya lebih besar dibanding kampus saya sekarang. Padahal jurusannya pun tidak seperti yang saya ambil dengan teman saya tadi. Akreditasinya pun sama.
Kedua, kualitas. Hah? Kualitas? Sepenting apa kualitas jika dilihat dari minat mahasiswa sekarang yang kebanyakan kuliah hanya untuk kerja dan jadi PNS? Masalah kualitas, tak bisa dipungkiri, mungkin perbandingannya adalah 60:40 lebih unggul kampus negeri. Kenapa saya bilang begitu? Kalau tidak percaya silahkan lihat saja peringkat kampus-kampus di Indonesia yang biasanya sangat banyak sekali situs yang menyediakan daftar peringkat kampus-kampus negeri. Kampus negeri bagus, tapi itu hanya seberapa, andaikata, hampir setara lah antara kampus negeri dan swasta yang menduduki predikat ini. Kualitas pun banyak sekali menyangkut hal-hal yang ekstern. Contohnya alumni-alumninya yang dikenal lebih mudah dapat kerja dibanding swasta. Mungkin kalian bisa mengkaji ulang pernyataan tersebut.
Sebenarnya, dalam bursa kerja, sebuah perusahaan tidak hanya melihat dari dari mana calon karyawannya lulus. Percuma dong jika lulusan kampus ternama dan nomor satu di Indonesia bahkan di dunia jika kemampuannya tidak mencapai yang diharapkan? Sebenarnya, kemana pun kalian kuliah, selagi itu masih di bumi tercinta ini, tidak ada yang mempersalahkan kalian kuliah dimana asalkan kemampuan sudah cukup mumpuni dengan apa yang dibutuhkan. Satu lagi, kemampuan lah yang menentukan akan kerja dimana dan akan jadi apa.
Selain itu, ada juga perusahaan yang meninjau dari akreditasi kampus tersebut. Biasanya dalam urusan ini, dilakukan oleh perusahaan yang terikat oleh negara. Contohnya saja PNS, pernah dengar PNS mencari pegawainya hanya dari kampus negeri? Haha, tentunya saja tidak pernah. Yang mereka lihat adalah akreditasi, dimana akreditasi tersebut yang sudah disahkan oleh badan khusus milik pemerintah yang khusus juga menangani masalah penjaminan mutu, dan biasa kita sebut dengan BAN-PT.
Sebenarnya, jika ditimbang-timbang, seseorang lebih memilih kampus negeri adalah hanya masalah gengsi, dan yang lebih parahnya lagi, ini sudah mengakar di otak masing-masing calon mahasiswa serta orang tuanya juga.
Sebenarnya pula, tidak masalah kita mau kuliah dimana, asalkan ingat yang tadi itu, tidak menjamin kampusmu untuk mengantarkanmu menuju sukses, sukses ada di tangan masing-masing, dan kemampuan lah yang akan mengantarkanmu, pun beserta suratan dari Tuhan yang maha kuasa.
Jadi, kesimpulannya sepele, kampus favorit itu bukan hanya kampus yang berlabel ‘Negeri’. Pun swasta juga banyak yang menampakkan namanya di jajaran kampus favorit. Jadi, jangan terlalu underestimate kepada kampus swasta, dan lebih mendewakan kampus negeri.
Pernah dengar Bill Gates? Sang empunya Microsoft dan anak perusahaan lainnya? Sebenarnya dia tidak pernah lulus dari jenjang perguruan tinggi. Tapi dia berusaha, dan usahanya sangat membuahkan hasil. Dia tidak malu tidak kuliah, pun bahkan sangat bangga sekarang melihat teman-temannya yang kuliah sampai lulus malah bekerja di perusahaannya. Tapi dia masih ingat satu hal yang paling penting di dunia, dia tidak pernah lelah untuk mencoba dan belajar, karena menurutnya ilmu pengetahuan itu tidak pernah ada habisnya, dan tentunya sangat penting untuk penjaminan mutu seseorang dalam hidupnya. Dia selalu menjunjung tinggi nama pendidikan di hidupnya, sehingga mengantarkan dia menjadi filantropi dan menyedekahkan sebagian besar hartanya untuk pendidikan orang-orang yang kurang mumpuni.

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.