Menyercap Puisi Sajak-sajak Burung Kondor oleh W. S. Rendra

kemudian hatinya pilu
Melihat jejak-jejak sedih para petani – buruh
Yang terpacak di atas tanah gembur
Namun tidak memberi kemakmuran bagi penduduknya

Demikian cuplikan dari puisi seorang maestro puisi kita, W. S. Renda. Beliau cukup mewakili perasaan petani – buruh Indonesia kala itu. Betapa harunya para petani yang mengorbankan tanah gemburnya tanpa harus mengais dari tanah mereka sendiri, betapa pilunya para buruh yang mengorbankan tetes per tetes keringat mereka tanpa harus meminum dari sumbernya sendiri. Ini tercermin oleh bangsa yang merdeka negaranya namun tidak merdeka rakyatnya, ini cermin bahwa penindasan yang sebenarnya adalah penindasan dari bangsanya sendiri.

1973. Puisi ini lahir di tahun yang kita semua mengerti bahwa Indonesia sudah mempunyai status merdeka di jajaran wajah dunia. Di tahun ini pun, Indonesia sudah mampu memperingati kemerdekaannya ke sekian kali. Wajah-wajah dunia nampak sumringah dan bosan dengan perayaan kemerdekaan yang tak luput dari setiap tahunnya, wajah-wajah pejuang sedikit menorehkan sifat puas di mimik mukanya saat sang inspektur upacara menghormati mereka seperti merekalah pejuang yang harusnya bajunya digantung dengan gantungan emas di dalam kaca anti peluru. Merekalah saksi nyata dari kekejaman dan kebengisan penjajah di tanah Nusantara.

Seharusnya, ketika mereka telah menyandang gelar ‘pejuang’ dan ‘veteran’, negara menjunjung tinggi nama-nama mereka di atas awan, bukan malah menjatuhkannya di bawah bumi. Mereka harus menjadi saksi untuk kedua kalinya penyiksaan-penyiksaan warganya, namun bukan siksaan perang saat negara belum merdeka, lebih ke siksaan tidak langsung yang bahkan dilakukan oleh negaranya sendiri.

Sajak-sajak yang dilantunkan oleh Bapak Sastra kita (W. S. Renda) sedikit banyak sudah mendeskripsikan betapa menderitanya kaum buruh dan petani kala itu. Beliau mampu menyajikan jejak rekaman kekejaman masa orde baru lewat sajaknya yang indah. Seakan menarik kita untuk berada dan merasakan betapa tidak adilnya hukum pada masa itu.
 
mereka memanen untuk tuan rumah yang mempunyai istana indah
Keringat mereka yang menjadi emas diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu Eropa
Dan bila mereka menuntut perataan pendapatan
Para ahli ekonomi membetulkan letak dasi, dan menjawab dengan mengirim kondom

Gambaran lain dari puisi tersebut tersirat dari sajak selanjutnya. Beliau menyajikan pemandangan kesemena-menaan pemimpin kala itu. Semua tahu bahwa pada tahun tersebut, seseorang yang digadang-gadang mempunyai dampak paling besar di Indonesia dalam pembangunanlah yang meraja dan bertindak kesemek-menaan itu. Bapak Soeharto, bapak pembangunan bangsa yang membangun bangsa dari keringat-keringat darah para buruh dan petani, tak sesuap nasi pun yang mereka terima melainkan bara yang memompa kinerja mereka. Presiden terlama tersebut memang punya banyak sekali ganjaran dan jasa untuk bangsa ini, dengan kebijakan-kebijakannya yang super tegas, tak seorang pun yang berniat untuk kehilangan nyawanya dan jasad yang hilang diam-diam hanya karena membangkang dan membantahnya.

Tak hanya presidennya saja yang mempunyai kesewenang-wenangan, namun para jajaran menteri yang menyokongnya dari belakang seakan menjadi dalang kedua bagi kemiskinan kaum bawah di negeri ini.
 
Dulu, budak disuruh kerja dengan upah sesuap nasi, dan sekarang, pada buruh dikasih upah tapi hanya cukup untuk membeli nasi. Apa bedanya?
– Adrian Napitupulu : Aktivis ’98.

Ungkapan lain namun bermaksud sama yang diluncurkan oleh aktivis-aktivis 1998, Adrian Napitupulu. Dengan gayanya yang kasar namun tegas, beliau membandingkan kepenguasaan jaman orde baru dengan reformasi. Menurutnya, tak ada yang beda dengan sistem pengaplikasian, namun hanya nama yang membuatnya beda. Tapi dalam nama yang berbeda tersebut ada maksud yang tersirat dan mudah untuk dimengerti, dengan bahasa yang mudah dimengerti dan dicerna oleh lapisan masyarakat mana pun. Kalau kita lihat lebih rincinya lagi, memang tidak ada yang membedakan antara kata budak dan buruh, kedua nasib kata tersebut digunakan untuk seseorang yang disuruh-suruh oleh bos atau atasan. Dan buruh yang lebih modern pengucapannya, karena sekarang pun sudah tak musim lagi dengan kata budak

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.