Langkahku semakin lelah, berjalan menyusuri
Mondar-mandir di keramaian kota
Hati yang bingung lamaran kerja di tolak
Enggak tahu kenapa yang kurang syaratnya
. . .
Pikir-pikir dari pada, ku melamar kerja
Lebih baik, melamar kamu
. . .
Gengsi gede-gedean!
Masih
ingat lagu ini? Haha, anak 90-an pasti tahu.
Sedikit
bernostalgia, itu adalah lagu yang menceritakan dimana seorang sarjana yang
bingung mencari kerja di kejamnya ibu kota, Jakarta. Dan yang tersirat dari
lagu itu adalah, mengajarkan seberapa tinggi jenjang pendidikan kalian, tidak
menjamin bahwa kalian akan sukses seperti apa yang kalian inginkan, melainkan
usaha dan do’a lah yang menentukan kalian akan sukses atau tidak.
Lalu,
apa hubungannya lagu dan wejangan itu dengan apa yang akan kita bahas nanti?
Tentunya sangat berhubungan, sangat dan amat berhubungan.
Kuliah.
Siapa yang tidak ingin melalui proses ini? Mungkin ada, tapi hanya minoritas,
dan mayoritas memilih pasti ingin meneruskan ke jenjang perguruan tinggi.
Banyak
yang sudah menjamur di otak siswa atau siswi jaman sekarang, kesuksesan akan
tercapai dengan kualitas tempat yang akan kita jadikan sebagai tempat menimba
ilmu. Tolak ukur yang salah! Tanya kenapa?
Berulang
kali, mungkin sudah saya bahas dipostingan sebelumnya. Bill Gates? Tidak usah
banyak cerita tentang beliau, beliau sangat terkenal di dunia teknologi, dan
yang lebih membuatnya terkenal adalah dia keluaran (baca:Drop Out) dari
salah satu kampus ternama di Inggris. Keluaran tidak sama dengan lulusan. Keluaran
lebih tidak terhormat untuk meninggalkan suatu tempat. Dan memang begitulah
beliau. Dia keluaran dari kampus swasta di Inggris.
Beliau
tidak menyayangkan seberapa gengsinya kampus itu. Malah, yang lebih
mencengangkan adalah itu masuk dalam kategori kampus terbaik di dunia. Harvard
University. Dia tetap belajar, dan menjalankan hobinya yaitu di bidang
teknologi. Sampai akhirnya, dia terkenal dengan teknologi pengubah umat
manusia. Microsoft Incorporated tercipta melalui kedua tangan seseorang yang
tidak pernah lulus dari perguruan tinggi.
Lain
lubuk lain ikan, lain otak lain pikiran.
Itulah
yang terjadi di negeri tercinta kita, Indonesia. Mungkin di luar sana juga
banyak sekali yang berpikiran seperti kita.
Anak
muda, atau siswa dan siswi jaman sekarang pasti memprioritaskan tempat yang
akan dituju untuk menimba ilmu. Contoh kecil saja sekarang, desus-desus
perguruan tinggi terbaik berlabel ‘Negeri’ sangat marak. Memang benar, pikiran
mereka benar, tapi tidak selalu benar. Salahnya bukan pikiran mereka yang
menganggap tidak penting suatu pendidikan, tapi salahnya adalah menganggap
bahwa tempat favorit yang pernah adalah kampus berlabel ‘Negeri’. Dan
mendiskreditkan kampus swasta sebagai kampus terburuk untuk dimasuki.
Saya
tidak yakin bahwa alasan mereka untuk kuliah seratus persen untuk menimba ilmu.
Sudah tidak bisa dipungkiri lagi, seseorang mengejar gelas sarjana bahkan
master hanya untuk mencari kerja dan diangkat status sosialnya oleh masyarakat
sekitar. Kalau hanya untuk itu, kenapa harus susah-susah masuk kampus negeri?
Dan menggugurkan orang-orang yang berniat murni karena haus ilmu dan
kesuksesan?
Saya
Cuma prihatin orang-orang yang mendewakan kampus negeri seperti surga dunia
yang harus kita masuki, dan swasta adalah neraka yang wajib pula kita hindari.
Kasihan sekali, padahal jika meninjau dari kemampuan individu suatu kampus
negeri dengan swasta. Tidak kalah jauh, asal perbandingan itu sepadan kelasnya.
Pernah mendengar ada mahasiswa terbodoh yang pernah ada dan kuliah di kampus
swasta? Pernah melihat ajang mahasiswa terbodoh yang digelar khusus untuk
kampus swasta? Pernah mendengar olimpiade dari segala tingkat tentang inovasi
dan kecerdasan yang menyangkut pautkan kampus swasta untuk ikut berpartisipasi
ikut dan alhasil menang di olimpiade tersebut? Yang pertanyaan terakhir itu,
saya akan bantu untuk menjawabnya. Banyak. Banyak sekali. Bahkan di Jogja,
tempat saya menulis artikel ini, tempat yang dianugerahi sebagai kota pelajar,
kampus didominasi oleh kampus kecil yang alhasil bahwa mereka swasta. Memang,
siapa yang meragukan keperkasaan UGM sebagai kampus nomor satu di Indonesia,
tapi tidak sadarkah bahwa UMY juga punya itu? Memang, siapa yang meragukan
keperkasaan UIN Sunan Kalijaga sebagai kampus Islam terbaik di Yogyakarta, tapi
tidak sadarkah bahwa UII juga punya itu? Memang, siapa yang bisa mengalahkan
ITS dan ITB sebagai kampus teknologi yang sanggup membawa nama baik Indonesia,
tapi tidak sadarkah kalian bahwa STMIK AMIKOM juga punya itu?
Jadi,
kuliah jika hanya urusan gengsi, tidak harus memangkas niat baik dan mulia
seseorang yang alhasil gagal dalam persaingan masuk perguruan tinggi negeri
yang bahkan punya niat seratus persen lebih baik dibanding orang yang diterima
di kampus negeri tapi hanya untuk ajang gengsi. Mereka juga punya hati. Saya
tidak sakit hati jika saya sekarang kuliah di salah satu kampus kecil di
Yogyakarta, tapi yang saya sakitkan adalah ketika mereka (negeri)
mendiskreditkan saya (swasta). Kami lahir dari rahim yang sama di Indonesia,
dan kami juga punya tujuan yang sama mulianya dengan mereka. Tapi kenapa kami
seperti di tangan kirikan oleh induk kami sendiri?
Think again.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.