“Desain
Gra(f)is, bukan Desain Gra(t)is!”
Haha.
Siapa yang tidak kenal dengan kata-kata itu? Kata-kata yang sudah menjamur di
otak para desainer. Dan kata-kata yang sepertinya menjadi pegangan utama dalam
dunia pendesainan.
Selain
menjalani kehidupan saya yang kurang lebih mengabdikan waktunya untuk merangkai
kata, memolesnya dengan indah, dan menarikan jari-jemari saya di atas tuts keyboard
komputer jinjing saya, saya juga mempunyai kehidupan lain yang tak kalah
asyik, dan tentunya apalagi kalau tidak sesuatu yang akan saya bahas kali ini.
Ya. Desainer. Tidak etis memang jika hanya mengecap diri sendiri menjadi
seorang desainer, bagaimana tidak, saya tidak pernah mengikuti kontes-kontes
atau apapun yang berhubungan dengan desain, dapat pesanan desain dari konsumen
pun sangat jarang sekali. Mungkin ada satu – dua, dan itu juga hanya
teman-teman dekat saja. Jadi, saya juga malu untuk mengetik ini. Lihatlah,
sebenarnya saya tertawa sendiri dengan layar monitor. Haha.
Permasalahan
yang sangat mendasar sebenarnya, yakni masalah royalti dan harga diri.
Seseorang
yang mempunyai jiwa desainer sejujurnya sangat tidak suka untuk mematok tarif
yang mengikat antara desainer sendiri dan konsumen. Desainer hanya ingin
karyanya dihargai dengan sepantasnya, pun penghargaan tidak harus dengan uang,
bukan? Tapi, sikap baik dari desainer inilah yang malah membuat dirinya menjadi
seperti budak. Acap kali, saya saja, sebenarnya sangat malu untuk mematok harga
yang mengikat, di luar kemampuan saya memang, dan juga karya saya terlalu mahal
untuk dihargai dengan uang. Tapi sikap saya yang kelewatan baik inilah yang
malah membuat saya seperti di kerangkeng dalam kerangkeng yang saya buat
sendiri.
Teman.
Inilah makhluk yang sangat sulit untuk kita tolak dalam segala apapun. Apalagi
yang sudah menganggap kita seperti saudara sendiri. Ini harusnya ada
pengecualian dalam jiwa desainer.
Tidak
jarang saya hanya meng-iya-kan apa yang teman-teman perintahkan kepada saya.
Contoh kecilnya, ya, masalah desain ini. Setiap kali saya ingin mematok harga
yang sepantasnya, mereka selalu bilang, “Ah, teman sendiri masa’ harus
bayar?”. Aduh, andai laptop ini bisa bicara, sudah pastinya dia akan
mengomel tidak ada hentinya.
Entahlah
apa yang ada di otak makhluk yang bernama teman itu. Mungkin mereka pikir, saya
mendesain ini tidak butuh kopi untuk membelalakkan mata. Mungkin mereka pikir,
kopi bisa dibeli hanya dengan ‘terima kasih’.
Jadi,
hargailah karya seorang desainer meskipun itu temanmu sendiri. Atau bahkan dia
lebih dari teman. Asalkan kalian tahu, desainer itu pekerjaan yang sangat
melelahkan, meskipun kelihatannya hanya diam saja. Tidak mungkin bukan, jika
hanya diam tiba-tiba tercipta karya yang luar biasa? Dia bekerja dobel, atau
bahkan tripel, mereka menyingkronkan tangan, otak, dan hati mereka untuk
benar-benar menciptakan kekreatifitasan yang tiada batas. Tak hanya desainer
memang, penulis juga, atau apapun juga yang menyangkut itu membutuhkan keringat
hati untuk mencucur. Kecuali, memang jika temanmu sebaik dewa yang tiba-tiba
berinisiatif untuk memberikan kalian karya yang cuma-cuma alias gratis.
Once agan. Desain isn’t Gratis, baut Desain is Grafis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.