Salam Lestari?! Lestari!
Kata-kata itu tak jarang kita dengar saat ada
sosialisasi organisasi-organisasi pencinta alam di manapun dan kapanpun. Kita
dibuat tercengang oleh semangatnya yang sangat ambisius dalam melestarikan alam
ini khususnya Bumi Nusantara. Tak ayal, puluhan hingga ratusan aksi turun
lapangan pun mereka lakukan, hanya untuk membuktikan bahwa mereka adalah
generasi muda penerus bangsa yang cinta akan alam. Tempat mereka sekarang
berpijak. Dengan aksi seperti ini, siapa yang tak terbuai ingin tergabung dalam
organisasi seperti ini? Dari tua hingga muda, anak kecil sampai dewasa, lelaki
maupun perempuan pun hatinya tergoyah untuk segera gabung dan melestarikan alam
ini secara bersama. Lalu, bagaimana dengan sampah plastik yang masih marak di
pinggiran sungai sampai di sekitar kita? Saya pun sendiri malah meragukan
kinerja, visi, dan misi organisasi pecinta alam yang amat banyak di belahan
bumi Nusantara ini.
Pecinta alam adalah salah satu bentuk organisasi
yang sangat amat gandrung dalam melestarikan alam. Bahkan pada saat Hari Bumi
yang jatuhnya pada 22 April di setiap tahunnya, organisasi ini tak
absen-absennya untuk mendeklarasikan bahwa kita harus menyelamatkan bumi kita
dengan setidaknya menanam satu pohon untuk warisan anak cucu kita nanti. Bahkan
tak hanya orang yang terlibat dalam organisasi ini saja, seluruh lapisan
masyarakat mulai sadar akan berkurangnya ekosistem botani yang ada di
sampingnya, sehingga mereka pun langsung terjun ke lapangan dengan membawa
cangkul dan satu pohon kecil untuk di tanam. Bagus sekali tindakan mereka, jika
niatannya untuk membangun dan melestarikan bumi supaya anak cucu mereka
merasakan bumi yang hijau.
Di sisi lain juga, kenapa harus pohon yang selalu
ditanam?
Timbul masalah besar saat saya memperbarui status
saya di sebuah jejaring sosial Facebook yang menyatakan bahwa KENAPA CINTA ALAM
MASIH MENGGUNAKAN KANTONG PLASTIK? Sontak semua penghuni jejaring sosial
tersebut langsung kelabakan dengan status saya. Mereka bergilir mencibir saya
dengan lebih bersifat mendiskreditkan dan tanpa berfikir untuk keseratus
sekian. Dan lebih parahnya, salah satu yang mencibir adalah seorang yang gemar
sekali mendaki gunung dan mencap dirinya sebagai Pecinta Alam.
Seyogyanya, apakah benar seorang Pecinta Alam
tidak bisa berfikir panjang dan tak punya etika? Saya pribadi menjawab bahwa
itu SALAH BESAR. Seorang pecinta alam harusnya lebih kritis dengan opini-opini
yang bertujuan dengan alam khususnya.
Plastik, adalah salah satu bakal sampah yang sukar
sekali untuk hancur dalam perut bumi meskipun dalam waktu yang bertahun-tahun.
Dan plastik juga sukar sekali untuk dimusnahkan meskipun dalam cara apapun,
andai dibakar sampah plastik tak langsung hancur, dan lebih parahnya akan menimbulkan
dampak yang sangat buruk untuk kesehatan kita, termasuk dalam saluran
pernafasan inti seperti paru-paru.
Saya kira, seluruh lapisan masyarakat mengetahui
tentang sedikit kesimpulan sampah plastik di atas. Tapi anehnya, kenapa
masyarakat memilih terlalu banyak resiko dengan penghijauan tapi masih gemar
mengkonsumsi plastik selayaknya sekarang? Sama saja, bukan? Kita melakukan
gerakan pelestarian alam, tapi kita juga yang secara tidak langsung merusak
alam secara permanen.
Lalu
apa sudah ada pengganti kantong plastik?
Pertanyaan yang indah. Memang saat ini masih belum
ada yang pas dalam menggantikan peran plastik sebagai salah satu alat yang
membantu kita dalam mewadahi sesuatu dengan mudah. Tapi, apakah kita seutuhnya
perlu kantong plastik? Saya kira, tergantung apa yang mau dikantongi dulu.
Contohnya, jika kita berbelanja di Indomar*t atau Alfamar*t, dan belanjaan kita
hanya makanan ringan satu, air mineral satu, dan permen atau rokok saya kira
tak perlu menggunakan kantong plastik. Apa kita tak punya tangan untuk memegang
salah satu belanjaan kita? Apakah kita tak punya saku? Masih banyak ribuan cara
yang bisa kita lakukan dalam menimimalisasi penggunaan kantong plastik saat
kita berbelanja di tempat belanja seperti minimarket atau apa pun. Lebih banyaklah
menggunakan jasa tas kita untuk menggantikan kantong plastik, takut kotor? Kan
bisa dicuci. Lebih baik mana, tas kita yang kotor atau bumi kita yang semakin
rusak?
Saya tidak melarang anda untuk menanggalkan
kantong plastik. Tapi, saya cuma sedikit memohon, gunakan kantong plastik
seperlunya. Dan mulai lah berani berbicara ‘nggak
usah kantong plastik, Mbak’ kepada penjaga minimarket atau sejenisnya. Dan.
Satu kantong plastik yang tidak terpakai, bumi kita akan tersenyum riang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.