Tuan-tuan
Apakah kalian tahu siapa ayahku?
Ayahku hanya seorang petani
Yang hanya mengandalkan si buah padi
Ayahku hanya seorang pedagang
Yang hanya mengandalkan dari beratnya timbangan
Tuan-tuan
Sekolah ini kaya
Muridnya pun tak terkira jumlahnya
Mereka semua bisa tertawa
Semuanya sejahtera
Tapi . . .
Sekarang mereka linglung
Sekarang mereka bingung
Kalian telah membalikkan bibir mereka
Yang mulanya ke atas menjadi ke bawah
Tanpa kasihan kalian peras kami
Aku dan mereka, dan orang tua kita
Mana tempat ini yang dulu?
Yang murah tapi meriah
Bukan mahal menggelora
Andaikan semua perasan itu terbalas dengan baik
Dengan kebutuhan yang kami butuhkan
Kami tentunya akan tersenyum
Tapi semua itu bohong apa?
Mana itu yang berbasis IT
Mana itu yang berbasis agama
Fasilitas sama saja
Tapi biaya menggerogoti jiwa
Apakah kalian tahu siapa ayahku?
Ayahku hanya seorang petani
Yang hanya mengandalkan si buah padi
Ayahku hanya seorang pedagang
Yang hanya mengandalkan dari beratnya timbangan
Tuan-tuan
Sekolah ini kaya
Muridnya pun tak terkira jumlahnya
Mereka semua bisa tertawa
Semuanya sejahtera
Tapi . . .
Sekarang mereka linglung
Sekarang mereka bingung
Kalian telah membalikkan bibir mereka
Yang mulanya ke atas menjadi ke bawah
Tanpa kasihan kalian peras kami
Aku dan mereka, dan orang tua kita
Mana tempat ini yang dulu?
Yang murah tapi meriah
Bukan mahal menggelora
Andaikan semua perasan itu terbalas dengan baik
Dengan kebutuhan yang kami butuhkan
Kami tentunya akan tersenyum
Tapi semua itu bohong apa?
Mana itu yang berbasis IT
Mana itu yang berbasis agama
Fasilitas sama saja
Tapi biaya menggerogoti jiwa
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.