Yang Kedua


Pagi-pagi sekali matahari sudah memancarkan sinarnya. Dia seolah mencoba untuk membangunkanku, namun kayaknya aku cuek, karena saat itu aku masih super-super ngantuk. Dan, tidur lagi.
“hey, nak, bangun. . .sudah pagi ini loh, tidak sekolah apa?”. Suara emakku yang melengking sentak membangunkanku langsung, ternyata suara emakku lebih ampuh daripada sinar mentari. Mungkin itu bisa dimuat dalam koran harian dengan judul “Emakku Lebih Bersinar di Pagi Hari”. Hehehe. . .
Langsung pakai handuk bintik-bintik dengan motif ungu dan hitam, segera ku meluncur ke kamar mandi. 15 menit sudah cukup untuk membasahi badan yang kecil ini, dengan sedikit gosokan dari sabun racikan emakku sendiri, badan ini sudah wangi setelah keluar dari kamar mandi. Hari ini adalah awal aku masuk di sekolah baruku, jaraknya cukup jauh dan aku harus bergegas untuk berangkat. Seperangkat seragam putih abu-abu dan tas hitam sudah melekat di tubuhku, waktunya mengendarai motor dan tancap gas.
“hey anak baru, cepat kamu masuk. Hari pertama sekolah mau ketinggalan” panggil satpam dengan wajah beringas sambil menjaga gerbang sekolah.
“iya pak, maaf mau telat. Terimakasih ya masih dibukain gerbangnya”.
“oh iya tidak apa-apa, lain kali kalau berangkat jangan siang-siang”.
“siap komandan” jawabku tegas seperti prajurit menghadap atasannya.
Hari pertama ini tidak boleh terlambat, aku harus tepat waktu di jam pertama dan hari pertamaku di sekolah ini.
“halo, nama saya Budi, saya suka bermain bola, dan saya sekarang tinggal di jalan Sesama nomer 123. Kalau mau numpang minum atau makan, mampir juga boleh kok”
Setelah perkenalan singkatku dengan teman sekelas, aku dipersilahkan duduk oleh wali kelasku. Aku sekarang mengulang lagi kelas 2 SMA, yang harusnya sekarang aku duduk bersama teman-temanku di kelas 3 SMA, namun aku harus rela mengulang. Meskipun capek akan itu. Di sudut kelas, aku memperhatikan seorang murid cewek, dia sangat pendiam. Tapi dia cantik, dia berponi dan rambut belakangnya dikepang. Menurutku, cewek yang rambutnya diponi dan rambut belakangnya dikepang, kecantikannya bertambah 70%, tambah 30% lagi kalau dia senyum kepadaku. Hehehe. . .
Hari pertama sekolah sudah dapat incaran cewek, jiwa lelakiku memang kuat di sekolah ini. Tapi aku tidak mau pacaran, takutnya nanti kalau mau pindah sekolah lagi aku malah patah hati, orang tuaku kan kerjanya tidak menetap, jadi aku suatu saat akan pindah lagi ke suatu tempat, dan mendapat teman-teman baru lagi. Tujuh jam sudah kulewati hari-hari baru di sekolahan baru, dan harus bertemu emak dengan suara khasnya yang melengking cethar membahana. Hehehe. . . Sore hari aku berniat untuk jalan-jalan di sekitar tempat tinggal baruku, tidak sengaja aku melihat gadis yang aku perhatikan terus menerus di sekolah tadi sedang bermain-main sendiri di danau, ternyata dia adalah tetatidaku, pas banget.
“hey, kamu gadis yang di kelas tadi kan?” sapaku penasaran.
“eh kamu. . .iya, Bud. Aku sekelasmu tadi”.
“kamu kok di sini, tinggal di sini juga?” tanyaku yang hanya memastikan saja.
“iya, Bud. Itu rumahku yang berwarna kuning” tuturnya sambil menunjuk salah satu rumah yang berada lumayan jauh dari rumah baruku.
“aku ikut duduk yah? Capek jalan-jalan terus”.
“oh iya tidak apa-apa, silahkan duduk”.
Rasanya hujan langsung membasahi tubuhku, aku serasa berlabuh dengannya di lautan yang indah. Aku senang sekali bisa bersanding dengan cewek yang punya kecantikan 70%, dan sekarang jadi 100%, karena dia senyum padaku. Senyumannya sangat manis, mungkin kopi tanpa gula ikut manis kalau dia yang bikin.
“namaku Dinda, kita tadi kan belum sempat kenalan”.
“oh iya, Din. Senang sekali sekarang aku tahu namamu, jadi tidak kerepotan kalau nantinya manggil kamu”.
Senja menggeser matahari. Sore sudah datang, dan itu tandanya kami harus pulang ke rumah masing-masing. Dia ke rumah kuningnya, dan aku ke rumah baruku.
“kemana saja kamu Bud?” tanya emakku.
“baru pulang dari rumah teman, Mak” jawabku singkat.
“oh, ya sudah cepat mandi, terus kita makan”.
Tangan yang bekas jabat tangan dengan Dinda tadi rasanya tak ingin ku kenakan air, takut bau harumnya nanti luntur. Sekaligus juga buat kenang-kenangan dengan cewek berkecantikan 100%. Selesai mandi, makan, sholat dan belajar. Biar besok tidak kesulitan kalau mau ngerjain ulangan harian. Ini lah delima seorang siswa baru, baru masuk sudah harus ikut ulangan. Untung saja aku masih ingat pelajaran setahun yang lalu, jadi tidak usah belajar yang sistemnya SKS, cukup belajar seperlunya saja. Jarum jam sudah berada di angka 10, aku harus tidur sebelum emak memarahiku. Berharap di tidur malam ini, aku bertemu Dinda lagi meskipun dalam mimpi.
Bangun tidur dan sekolah lagi, tapi ada yang beda di hari yang kedua ini.
“Dinda tidak masuk ya?” tanyaku ke teman dekatnya.
“iya, Bud. Katanya sih bepergian jauh”
Kemana ya dia? Mungkin dia lagi traveling bersama keluarganya ke luar negeri. Semoga kalau dia balik, dia masih ingat aku dan memberikanku oleh-oleh. Semoga saja. Sekolah tidak ramai kalau tidak ada Dinda, tidak ada yang bisa dibuat ngobrol, maklum baru 2 hari di sekolah baru, jadi belum cukup akrab dengan anak-anak, hanya Dinda saja yang sudah cukup akrab, karena dia juga tetatidaku, jadi lebih sering ketemu dibanding dengan anak-anak yang lain. Tujuh jam kedua sudah terlewati, aku masih biasa-biasa saja, belum ada yang luar biasa di hari ini. Mungkin karena Dinda tidak masuk.
Aku bingung sendiri, kenapa ya aku kok jadi kepikiran dia terus? Padahal kan baru kemarin kita bertemu. Mungkin aku saat ini hanya kesepian, hanya emakku yang selalu setia menemaniku di rumah, bapak juga jarang pulang dari awal beliau kerja di tempat barunya.
Breaking News mengacaukan acara nontonku, padahal tadi seru-serunya aku nonton acara kesukaanku, Spongebob Squarepants. Meskipun tontonanku selera anak kecil, namun bukan berarti aku masih bersifat kekanak-kanakan loh. Berita tentang pesawat udara dengan tujuan Jakarta – Amerika jatuh, disebabkan karena salah satu mesin mendadak mati dan tenggelam di utara pantai Bermuda. Entah mengapa tiba-tiba teringat Dinda, kata teman dekatnya kemarin dia pergi jauh. Amerika kan jauh, jangan-jangan. . .? Sudahlah, mungkin itu bukan pesawat yang dinaiki Dinda, semoga dia sudah bersenang-senang dengan keluarganya.
Berita tersebut mengikutiku sampai aku terlelap, tiba-tiba aku cemas mendengar reporter tersebut menyampaikan berita. Kenyataan seakan hadir dalam hidupku, tapi itu hanya berita, banyak pesawat yang berlalu lalang antara Jakarta – Amerika. Mungkin itu juga bukan dia, mungkin dia pergi ke suatu tempat yang lebih jauh dari Amerika. Dan hanya itu yang bias ku panjatkan ke hadapan sang Khaliq. Hingga akhirnya aku terlelap di pangkuan bantalku yang empuk.
Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un. . .
Kata-kata yang pertama kudengar waktu aku bangun tidur itu sempat membuatku cemas dan bingung. Apakah kecelakaan pesawat tersebut memang benar-benar pesawat yang dinaikinya? Aku langsung bangun dan cuci muka, dan ternyata. . .
Memang benar, itu adalah pesawat yang dinaiki keluarga besar Dinda. Aku langsung berontak dari kekantukan dan bergegas segera ke kediaman Dinda. Aku menangis saat melihat jasad ibu, ayah dan adiknya terbaring lemah tak berdaya di atas keranda mayat. Tapi anehnya, aku tidak melihat Dinda, kemana dia? Aku tanya petugas yang mengantarkan jasad-jasad keluarga Dinda tersebut.
“apakah cuma ini, Pak?”
“iya, Dek. Sementara dari keluarga ini Cuma ini yang kami temukan, tapi akan ada penelusuran lebih lanjut yang akan di lakukan petugas” kata petugas SAR tersebut.
Dimana Dinda? Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan dirinya, hati dan mata ini semakin menangis. Meskipun Dinda bukan saudara ataupun pacarku, namun dialah yang pertama aku kenal dan akrab di tempat baruku ini. Mau tidak mau aku harus sedih kalau orang pertama yang aku kenal dan akrab tersebut harus menghilang begitu saja.
1 tahun kemudian. . .
Waktu berasa semakin cepat, kurasa baru kemarin aku menjadi murid baru, dan sekarang aku sudah menjadi siswa kelas 3 SMA. Aku bertemu dengan orang-orang baru dan aku sudah punya banyak teman mulai dari kepindahanku 1 tahun yang lalu.
Memori-memori indah dan ingatan tentangnya, terpaksa harus ku kubur dalam-dalam di danau itu. Danau yang penuh kenangan, danau yang menjadi saksi tumbuhnya rasa ini, rasa yang sama sekali tidak ku mengerti, dan di danau itu juga, rasa sayang tumbuh di nuraniku. Dan sekarang akan ku hanyutkan rasa itu bersama ombak-ombak kecil danau itu.
Bebeapa bulan kemudian. . .
Kehidupan kelas tiga sangat singkat, dan sekarang sudah bulan April. Detik-detik ujian nasional sudah terasa, bagaimanapun juga aku harus belajar ekstra giat untuk mendapatkan nilai yang sangat memuaskan dan di terima di PTN favoritku. Aku optimis untuk menjadi siswa dengan nilai terbaik di sekolahku, itu karena otakku ini bukan otak main-main. Banyak piala dan piagam penghargaan menghiasi lemari kamarku, itu karena aku selalu menjuarai kejuaraan 1 tahun lalu. Dan bayang-bayang gadis 100% tersebut sudah samar di kehidupanku, aku berfikir dia sudah tenang di Surga sana.
Kejamnya ujian nasional sudah selesai, aku sangat enjoy saat semua orang dibingungkan oleh ujian tersebut, mungkin karena aku belajar. Jadi lebih mudah untuk mengerjakan 40 hingga 50 soal ujian.
Alhamdulillah setelah pengumuman kelulusan, aku berada di urutan ke-4 di sekolahku. Aku sadar, bukan aku saja yang paling pintar di antara ratusan siswa sekolahku. Tinggal aku daftar di PTN kebanggaan dan diterima di sana.
OPSPEK telah tiba, sekian lamanya aku mengidam-idamkan PTN itu dan akhirnya saat ini aku bisa berkumpul dengan mahasiswa baru di kampus ini. Aku memperhatikan seorang gadis yang di papan dadanya tertulis nama “TIKUS PUTIH, nampaknya aku kenal dengan gadis tersebut, tapi siapa ya? Poni yang sama, kepang yang sama dan bentuk muka yang sama. Ataukah dia Dinda? Ah tidak mungkin, dia kan sudah menghilang beberapa tahun yang lalu, dia tidak mungkin kembali lagi.
Dan akhrinya beratnya OPSPEK telah selesai, aku masih saja penasaran dengan gadis tikus putih tersebut. Dia duduk di bawah pohon ketapang kampus, ini saatnya untuk membuktikan rasa penasaranku tersebut, aku perlahan-lahan mendekatinya. Dan sebelum aku memulai pembicaraan, tiba-tiba dia bicara sesuatu.
“kamu?” dia kaget.
“kamu kan Budi, cowok yang satu sekolah denganku beberapa tahun lalu. Aku Dinda, Bud!”
Aku berlipat-lipat kaget atas ucapannya tadi, berasa aku hidup kembali setelah beribu-ribu tahun lamanya aku mati. Aku harus menampar pipiku sendiri, dan “Aw. . .” ternyata masih sakit, berarti aku bukan mimpi.
“kamu benar-benar Dinda? Aku pikir kamu sudah?”.
“iya, dulu aku kecelakaan pas mau pergi ke Amerika, semua keluargaku tewas akan kejadian itu. Namun tuhan masih berada di sampingku, aku waktu itu masih hidup. Hanya luka-luka berat saja yang aku alami, dan setelah aku dirawat di rumah sakit. Aku diadopsi oleh seorang ibu yang sudah lama tidak mempunyai anak dan mendambakan hadirnya anak di hidupnya. Setelah aku mendapatkan kabar kalau semua keluargaku sudah tiada, aku yang sangat merasa kehilangan, butuh beberapa waktu untuk ku tangisi kepergian keluargaku tersebut, tapi Alhamdulillah aku masih hidup. Dengan rasa syukurku ini, aku langsung menerima niat baik ibu tersebut. Dan akhirnya aku disekolahkan hingga tamat, dan kuliah di kampus ini. Dan akhrinya aku bias bertemu dengan kamu lagi” jelasnya panjang.
“aku turut senang atas kembalinya dirimu, Din. Namun aku masih tak percaya, sekian lamanya kamu dipisahkan dariku, akhirnya kita disatukan lagi di kampus ini”.
Ketidak percayaanku akan kembalinya Dinda sangat tidak di masuk akal. Namun itu semua sudah disuratkan oleh yang di atas.
Beberapa saat kemudian, setelah pertemuan kembali dengan Dinda, aku langsung mengungkapkan rasa yang pernah hilang ini, dengan gaya lelaki aku menyatakan dan mengucapkan kata “I Love You” di hadapannya, aku tak ingin kehilangan dia untuk yang kesekian kalinya. Dan aku ingin menjaganya untuk tetap berada di kehidupanku.

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.