Pagi-pagi sekali
matahari sudah memancarkan sinarnya. Dia seolah mencoba untuk membangunkanku, namun kayaknya aku cuek, karena saat itu aku masih super-super ngantuk. Dan, tidur lagi.
“hey, nak, bangun. . .sudah pagi ini loh, tidak
sekolah apa?”. Suara emakku yang melengking sentak membangunkanku langsung,
ternyata suara emakku lebih ampuh daripada sinar mentari. Mungkin itu bisa
dimuat dalam koran harian dengan judul “Emakku Lebih Bersinar di Pagi Hari”. Hehehe. . .
Langsung pakai handuk
bintik-bintik dengan motif ungu dan hitam, segera ku meluncur ke kamar mandi.
15 menit sudah cukup untuk membasahi badan yang kecil ini, dengan sedikit
gosokan dari sabun racikan emakku sendiri, badan ini sudah wangi setelah keluar
dari kamar mandi. Hari ini adalah awal aku masuk di sekolah baruku, jaraknya
cukup jauh dan aku harus bergegas untuk berangkat. Seperangkat seragam putih
abu-abu dan tas hitam sudah melekat di tubuhku, waktunya mengendarai motor dan
tancap gas.
“hey anak baru,
cepat kamu masuk. Hari pertama sekolah mau ketinggalan” panggil satpam dengan
wajah beringas sambil menjaga gerbang sekolah.
“iya pak, maaf
mau telat. Terimakasih ya masih dibukain gerbangnya”.
“oh iya tidak
apa-apa, lain kali kalau berangkat jangan siang-siang”.
“siap komandan”
jawabku tegas seperti prajurit menghadap atasannya.
Hari pertama ini
tidak boleh terlambat, aku harus tepat waktu di jam pertama dan hari pertamaku
di sekolah ini.
“halo, nama saya
Budi, saya suka bermain bola, dan saya sekarang tinggal di jalan Sesama nomer
123. Kalau mau numpang minum atau makan, mampir juga boleh kok”
Setelah
perkenalan singkatku dengan teman sekelas, aku dipersilahkan duduk oleh wali
kelasku. Aku sekarang mengulang lagi kelas 2 SMA, yang harusnya sekarang aku
duduk bersama teman-temanku di kelas 3 SMA, namun aku harus rela mengulang.
Meskipun capek akan itu. Di sudut kelas, aku memperhatikan seorang murid cewek, dia sangat
pendiam. Tapi dia cantik, dia
berponi dan rambut belakangnya dikepang. Menurutku, cewek yang rambutnya diponi
dan rambut belakangnya dikepang, kecantikannya bertambah 70%, tambah 30% lagi
kalau dia senyum kepadaku. Hehehe. . .
Hari pertama
sekolah sudah dapat incaran cewek, jiwa lelakiku memang kuat di sekolah ini.
Tapi aku tidak mau pacaran, takutnya nanti kalau mau pindah sekolah lagi aku
malah patah hati, orang tuaku kan kerjanya tidak menetap, jadi aku suatu saat
akan pindah lagi ke suatu tempat, dan mendapat teman-teman baru lagi. Tujuh
jam sudah kulewati hari-hari baru di
sekolahan baru, dan harus bertemu emak dengan suara khasnya yang melengking
cethar membahana. Hehehe. . . Sore hari aku berniat untuk jalan-jalan di sekitar
tempat tinggal baruku, tidak sengaja aku melihat gadis yang aku perhatikan
terus menerus di sekolah tadi sedang bermain-main sendiri di danau, ternyata
dia adalah tetatidaku, pas banget.
“hey, kamu gadis
yang di kelas tadi kan?”
sapaku penasaran.
“eh kamu. .
.iya, Bud. Aku sekelasmu tadi”.
“kamu kok di
sini, tinggal di sini juga?” tanyaku yang hanya memastikan saja.
“iya, Bud. Itu
rumahku yang berwarna kuning” tuturnya sambil menunjuk salah satu rumah yang
berada lumayan jauh dari rumah baruku.
“aku ikut duduk
yah? Capek jalan-jalan terus”.
“oh iya tidak
apa-apa, silahkan duduk”.
Rasanya hujan
langsung membasahi tubuhku, aku serasa berlabuh dengannya di lautan yang indah.
Aku senang sekali bisa bersanding dengan cewek yang punya kecantikan 70%, dan
sekarang jadi 100%, karena dia senyum padaku. Senyumannya sangat manis, mungkin kopi tanpa
gula ikut manis kalau dia yang bikin.
“namaku Dinda,
kita tadi kan belum sempat kenalan”.
“oh iya, Din.
Senang sekali sekarang aku tahu namamu, jadi tidak kerepotan kalau nantinya
manggil kamu”.
Senja menggeser
matahari. Sore sudah datang, dan itu tandanya kami harus pulang ke rumah
masing-masing. Dia ke rumah kuningnya, dan aku ke rumah baruku.
“kemana saja
kamu Bud?” tanya emakku.
“baru pulang
dari rumah teman, Mak” jawabku singkat.
“oh, ya sudah cepat mandi, terus kita makan”.
Tangan yang
bekas jabat tangan dengan Dinda tadi rasanya tak ingin ku kenakan air, takut
bau harumnya nanti luntur. Sekaligus juga buat kenang-kenangan dengan cewek berkecantikan
100%. Selesai mandi, makan, sholat
dan belajar. Biar besok tidak kesulitan kalau mau ngerjain ulangan harian. Ini
lah delima seorang siswa baru, baru masuk sudah harus ikut ulangan. Untung saja
aku masih ingat pelajaran setahun yang lalu, jadi tidak usah belajar yang
sistemnya SKS, cukup belajar seperlunya saja. Jarum jam sudah berada di angka
10, aku harus tidur sebelum emak memarahiku. Berharap di tidur malam ini, aku
bertemu Dinda lagi meskipun dalam mimpi.
Bangun tidur dan
sekolah lagi, tapi ada yang beda di hari yang kedua ini.
“Dinda tidak
masuk ya?” tanyaku ke teman dekatnya.
“iya, Bud.
Katanya sih bepergian jauh”
Kemana ya dia? Mungkin dia lagi traveling bersama
keluarganya ke luar negeri. Semoga kalau dia balik, dia masih ingat aku dan
memberikanku oleh-oleh. Semoga saja. Sekolah tidak ramai kalau tidak ada Dinda,
tidak ada yang bisa dibuat ngobrol,
maklum baru 2 hari di sekolah baru, jadi belum cukup akrab dengan anak-anak,
hanya Dinda saja yang sudah cukup akrab, karena dia juga tetatidaku, jadi lebih
sering ketemu dibanding dengan anak-anak yang lain. Tujuh jam kedua sudah
terlewati, aku masih biasa-biasa saja, belum ada yang luar biasa di hari ini. Mungkin
karena Dinda tidak masuk.
Aku bingung
sendiri, kenapa ya aku kok jadi kepikiran dia terus? Padahal kan baru kemarin kita bertemu.
Mungkin aku saat ini hanya kesepian, hanya emakku yang selalu setia menemaniku
di rumah, bapak juga jarang pulang dari awal beliau kerja di tempat barunya.
Breaking News
mengacaukan acara nontonku, padahal tadi seru-serunya aku nonton acara
kesukaanku, Spongebob Squarepants. Meskipun tontonanku selera anak kecil, namun bukan berarti aku masih
bersifat kekanak-kanakan loh. Berita tentang pesawat udara dengan tujuan
Jakarta – Amerika jatuh, disebabkan karena salah satu mesin mendadak mati dan tenggelam di utara pantai
Bermuda. Entah mengapa tiba-tiba teringat Dinda, kata teman dekatnya kemarin dia pergi jauh. Amerika kan jauh,
jangan-jangan. . .? Sudahlah, mungkin itu bukan pesawat yang dinaiki Dinda, semoga dia sudah bersenang-senang dengan keluarganya.
Berita tersebut mengikutiku sampai aku terlelap, tiba-tiba
aku cemas mendengar reporter tersebut menyampaikan berita. Kenyataan seakan
hadir dalam hidupku, tapi itu hanya berita, banyak pesawat yang berlalu lalang
antara Jakarta – Amerika. Mungkin itu juga bukan dia, mungkin dia pergi ke
suatu tempat yang lebih jauh dari Amerika. Dan hanya itu yang bias ku panjatkan
ke hadapan sang Khaliq. Hingga akhirnya aku terlelap di pangkuan bantalku yang
empuk.
Innalillahi wa
inna ilaihi rooji’un. . .
Kata-kata yang
pertama kudengar waktu aku bangun tidur itu sempat membuatku cemas dan bingung. Apakah kecelakaan pesawat
tersebut memang benar-benar pesawat yang dinaikinya? Aku langsung bangun dan cuci muka, dan ternyata.
. .
Memang benar,
itu adalah pesawat yang dinaiki keluarga besar Dinda. Aku langsung berontak
dari kekantukan dan bergegas
segera ke kediaman Dinda. Aku
menangis saat melihat jasad ibu, ayah dan adiknya terbaring lemah tak berdaya
di atas keranda mayat. Tapi anehnya, aku tidak melihat Dinda, kemana dia? Aku tanya petugas yang mengantarkan
jasad-jasad keluarga Dinda tersebut.
“apakah cuma
ini, Pak?”
“iya, Dek.
Sementara dari keluarga ini Cuma ini yang kami temukan, tapi akan ada
penelusuran lebih lanjut yang
akan di lakukan petugas” kata petugas SAR tersebut.
Dimana Dinda?
Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan dirinya, hati dan mata ini semakin menangis. Meskipun Dinda bukan saudara ataupun
pacarku, namun dialah yang pertama aku kenal dan akrab di tempat baruku ini.
Mau tidak mau aku harus sedih kalau orang pertama yang aku kenal dan akrab
tersebut harus menghilang begitu saja.
1 tahun
kemudian. . .
Waktu berasa
semakin cepat, kurasa baru kemarin aku menjadi murid baru, dan sekarang aku
sudah menjadi siswa kelas 3 SMA. Aku bertemu dengan orang-orang baru dan aku
sudah punya banyak teman mulai dari kepindahanku 1 tahun yang lalu.
Memori-memori indah dan ingatan tentangnya, terpaksa harus
ku kubur dalam-dalam di danau itu. Danau yang penuh kenangan, danau yang
menjadi saksi tumbuhnya rasa ini, rasa yang sama sekali tidak ku mengerti, dan
di danau itu juga, rasa sayang tumbuh di nuraniku. Dan sekarang akan ku
hanyutkan rasa itu bersama ombak-ombak kecil danau itu.
Bebeapa bulan
kemudian. . .
Kehidupan kelas
tiga sangat singkat, dan sekarang
sudah bulan April. Detik-detik ujian nasional sudah terasa, bagaimanapun juga
aku harus belajar ekstra giat untuk mendapatkan nilai yang sangat memuaskan dan
di terima di PTN favoritku. Aku optimis untuk menjadi siswa dengan nilai
terbaik di sekolahku, itu karena otakku ini bukan otak main-main. Banyak piala
dan piagam penghargaan menghiasi lemari kamarku, itu karena aku selalu
menjuarai kejuaraan 1 tahun lalu. Dan bayang-bayang gadis 100% tersebut sudah
samar di kehidupanku, aku berfikir dia sudah tenang di Surga sana.
Kejamnya ujian
nasional sudah selesai, aku sangat enjoy saat semua orang dibingungkan oleh
ujian tersebut, mungkin karena aku belajar. Jadi lebih mudah untuk mengerjakan
40 hingga 50 soal ujian.
Alhamdulillah
setelah pengumuman kelulusan, aku berada di urutan ke-4 di sekolahku. Aku sadar, bukan aku saja yang
paling pintar di antara ratusan siswa sekolahku. Tinggal aku daftar di PTN
kebanggaan dan diterima di sana.
OPSPEK telah
tiba, sekian lamanya aku mengidam-idamkan PTN itu dan akhirnya saat ini aku
bisa berkumpul dengan mahasiswa baru di kampus ini. Aku memperhatikan seorang
gadis yang di papan dadanya tertulis nama “TIKUS PUTIH”, nampaknya aku kenal dengan gadis
tersebut, tapi siapa ya? Poni yang sama, kepang yang sama dan bentuk muka yang
sama. Ataukah dia Dinda? Ah tidak mungkin, dia kan sudah menghilang beberapa tahun yang lalu, dia tidak mungkin kembali lagi.
Dan akhrinya
beratnya OPSPEK telah selesai, aku masih saja penasaran dengan gadis tikus
putih tersebut. Dia duduk di bawah pohon ketapang kampus, ini saatnya
untuk membuktikan rasa penasaranku tersebut, aku perlahan-lahan mendekatinya. Dan sebelum aku memulai
pembicaraan, tiba-tiba dia
bicara sesuatu.
“kamu?” dia
kaget.
“kamu kan Budi,
cowok yang satu sekolah denganku beberapa tahun lalu. Aku Dinda, Bud!”
Aku
berlipat-lipat kaget atas ucapannya tadi, berasa aku hidup kembali setelah
beribu-ribu tahun lamanya aku mati. Aku harus menampar pipiku sendiri, dan “Aw.
. .” ternyata masih sakit, berarti aku bukan mimpi.
“kamu
benar-benar Dinda? Aku pikir kamu sudah?”.
“iya, dulu aku
kecelakaan pas mau pergi ke Amerika, semua keluargaku tewas akan kejadian itu.
Namun tuhan masih berada di sampingku, aku waktu itu masih hidup. Hanya
luka-luka berat saja yang aku alami, dan setelah aku dirawat di rumah sakit.
Aku diadopsi oleh seorang ibu yang sudah lama tidak mempunyai anak dan
mendambakan hadirnya anak di hidupnya. Setelah aku mendapatkan kabar kalau
semua keluargaku sudah tiada, aku yang sangat merasa kehilangan, butuh beberapa
waktu untuk ku tangisi kepergian keluargaku tersebut, tapi Alhamdulillah aku
masih hidup. Dengan rasa syukurku ini, aku langsung menerima niat baik ibu tersebut. Dan
akhirnya aku disekolahkan hingga tamat, dan kuliah di kampus ini. Dan akhrinya aku
bias bertemu dengan kamu lagi”
jelasnya panjang.
“aku turut
senang atas kembalinya dirimu, Din. Namun aku masih tak percaya, sekian lamanya
kamu dipisahkan dariku, akhirnya kita disatukan lagi di kampus ini”.
Ketidak
percayaanku akan kembalinya Dinda sangat tidak di masuk akal. Namun itu semua
sudah disuratkan oleh yang di atas.
Beberapa saat
kemudian, setelah pertemuan kembali dengan Dinda, aku langsung mengungkapkan
rasa yang pernah hilang ini, dengan gaya lelaki aku menyatakan dan mengucapkan
kata “I Love You” di hadapannya, aku tak ingin kehilangan dia untuk yang
kesekian kalinya. Dan aku ingin menjaganya untuk tetap berada di kehidupanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.