Tereret. . .
.Doorr. . . .Joss. . .
Siapa yang tak kenal dengan suara itu, suara klakson
motor yang telah dimodifikasi hanya untuk hari besar mereka, kelulusan sekolah
tepatnya. Pesta seperti itu sengaja diramaikan karena even yang langka, yaitu
tiga tahun sekali dinikmati oleh semua siswa yang memperolehnya. Semua siswa
SMP Negeri 3 Sugio menyambutnya dengan gelak tawa kebanggaan, saat diumumkannya
bahwa mereka lulus 100%, tak tertinggal aku yang ikut dalam keramaian itu.
Alhamdulillah aku lulus dengan nilai yang memuaskan, dan minimal bisa membuat
keluargaku bangga dengan hasil yang kuperoleh dalam waktu 3 tahun belakang.
Singkatnya kebersamaan kami di SMP membuat aku sedih, karena Cuma 3 tahun aku
dan teman-teman bisa berkumpul bersama, menikmati hawa pedesaan yang asli tanpa
ada bising suara motor yang wara-wiri di sekitar kami. Dan sekarang saatnya
kami kembali kehabitat kami, yang penuh dengan asap motor, asap rokok dan
dedaunan yang menari-nari tersingkap oleh liarnya angina pagi.
Liburan tiba !tersentak suara tetangga yang kegirangan
menyambut liburan kenaikan kelas 9 yang dialaminua saat ini, usianya kebetulan
beda 1 tahun denganku saat ini. Aku mulai berlomba-lomba untuk mendapatkan
sekolah favorit guna melanjutkan studiku yang sempat terputus oleh liburan
kelulusan kemarin. Berbagai sumber sekolah-sekolah favorit sudah ditangan,
dengan gambaran-gambaran manis di brosur-brosur sekolah asalnya. Hatiku bimbang
dibuatnya, hanya untuk memilih jalan masa depan yang mapan, aku harus disuguhi
berbagai brosur sekolah yang menurutku semuanya bagus, dan aku harus memilih
salah satu dari semua itu. Pandanganku tertuju ke sekolah yang simple, tapi
menurutku itu sangat elite dibanding dengan sekolah di kecamatanku, MAN
Lamongan namanya.Sekolah berazaskan agama itu menurutku mempunyai nilai lebih.
Tak lama setelah aku menyelesi semua sekolah itu, dating kakakku dengan
pengetahuan yang lebih dibanding aku mendekatiku dengan tawaran sekolah yang
menurutnya sangat bagus dan menjamin masa depan yang indah, aku pasrah saja
dengan keadaan itu karena tawarannya itu mendapat dukungan dari kedua orang
tuaku dan saudara-saudaraku. Pendaftaran dimulai, aku tercantum sebagai calon
siswa baru di R-SMAN-BI 2 Darul Ulum Jombang. Karena aku orangnya supel, aku
langsung dapat teman disana, meskipun bukan dari kota yang sama, mereka dari
berbagai kota, ada yang dari kota Tuban, daerah Jawa Tengah, Sunda, dan yang
paling jauh menurutku adalah dari daerah Kalimantan. Semua akrab denganku.
Hari pertama tes telah dimulai, aku dan teman-temanku
bergegas untuk mencoret-coret lembar kerja dengan sebaik-baiknya. Alhamdulillah
tes pertama telah selesai dengan sempurna menurutku, dalam tes pertama itu pula
aku kenal dengan seorang gadis yang menurutku super. Dia cantik, manis, baik
hati dan pintar pula. Entah dia memakai susuk apa untuk menarik perhatianku
dihari pertama tersebut. Menjelang malam aku berpapasan dengan dia di Mushola
tempat biasa kami menjalankan sholat, dia tampak lebih sholehah jika memakai
mukenah putih bersih dengan renda-renda yang kalem dan tampak anggun dengan
warnagaris tepi merah muda.Kami hanya melempar senyum saat bertemu, maklum
belum berani melontarkan sepatah kata apapun saat itu. Entah dia sesepesial
apa, selama aku di tempat peristirahatanku selalu membayanginya dengan mukenah
yang ia pakai itu dan dia dibelakangku dengan aku menjadi imamnya saat sholat
jamaah. Pikiranku mulai ngaco saat itu, aku juga belum berniatan untuk
pacaran.Hari kedua untuk tes, aku sangat bersemangat dibanding teman-temanku,
mungkin karena ada penyemangat pagi yaitu si Dia. Aku dan peserta lainnya
mengikuti santapan matahari pagi, yaitu apel rutin tiap tes mau dimulai.Di
dalam apel itu, kami semua dibagi untuk melakukan tes wawancara, tes gelombang
kedua untuk memasuki sekolah masing-masing. Aku yang kurang niat untuk sekolah
disini jawab asal-asalan saat
diwawancarai panitia, mungkin karena efek paksaan dari pihak keluargaku.
Tapi dalam tes tersebut bukannya aku mendapat cacian malah mendapat pujian
dibidang keagamaan. Maklumlah, sudah sejak kecil aku membawa nama Islam dan
mempelajarinya di hidupku. Sedikit bangga aku mendengar sanjungan dari panitia
wawancara.Kuperhatikan teman-teman seruangku saat wawancara, mereka menjawab
pertanyaan panitia dengan mantab, seakan-akan orang yang paling niat untuk
sekolah di sekolahan tersebut, tidak sedemikian aku yang hanya karena paksaan
dari keluarga. Saat giliran si Dia diwawancarai, ternyata namanya Intan, dia
berasal dari tanah kelahiran vokali Radja, yaitu Ian Kasela di Kalimantan
Selatan, pas banget dengan band idolaku saat aku masih MI. kumulai memberanikan
untuk bertanya banyak setelah tes wawancara usai. Aku mendekati bangkunya yang
kira-kira hanya terpisah oleh 2 bangku tengah, dan itu sangat tak masalah
untukku. Entah setan apa yang merasukiku saat itu, sehingga lidah ini mengucap bahwa
aku meminta nomer hape-nya, dengan alasan untuk memperkuat tali ukhuwah antara
kita, padahal aku sangat mengagumi dia, tapi malu donk untuk mengucapnya di
depan gadis yang baru kenal.
Setelah istirahat tes wawancara selesai, selanjutnya
menuju tes IQ, dan di tes saat ini, aku sangat apes, karena aku dapat tempat
duduk di belakang sendiri dengan didampingi pot bunga yang mekar
indah.Sedangkan penglihatanku sangat buram jika digunakan untuk melihat objek
yang jauh, saat itu menggunakan projector untuk memulai tesnya.Aku pasrah
dengan hasilku saat ini.Setelah tes ini berlangsung, aku sangat minder untuk
mendapatkan nilai yang maksimal, dan berfikir bahwa inilah persembahan terakhir
untuk keluargaku. Setelah beberapa lama vacuum tidak ada kegiatan di sekolah,
aku berniat untuk mengisi waktu luangku melancong mengelilingi kota Jombang,
dengan teman-teman tentunya. Berbagai pengalaman aku lewati bersama-sama dalam
waktu yang singkat.Selesai melancong aku manyandarkan pundakku di sofa
tamu.Kubuka hape-ku dan kuketik suatu kata ucapan selamat siang untuk Intan,
gadis yang baru aku kenal secara tak sengaja.Dan aku seperti terbang saat dia
membalasnya dengan kata-kata indah disertai kode senyum darinya.Status kami
mulai akrab, dan saling menyapa saat bertemu di jalan, entah itu hanya
berpapasan ataupun di sengaja.
Pengumuman pun dimulai, dan sangat disayangkan, bahwa
namaku tidak tercantum dibagian R-SMAN-BI 2 Darul Ulum Jombang, namun SMAN 1 Jombang
BPPT. Keluargaku tetap bangga atas hasil yang aku peroleh, namun menurutku itu
suatu alasan yang tepat untuk meninggalkan sekolahan tersebut, dan masuk ke
sekolah yang aku impikan, yaitu MAN Lamongan, meskipun berat untuk meninggalkan
Intan dan teman-teman disana, tapi jika dipaksakan untuk sekolah disana, tak
baik pula kan ? orang tuaku setuju untuk mendaftarkanku ke MAN Lamongan, aku
sangat senang sekali, meskipun hanya masuk di jalu regular, karena hampir telat
aku daftar disana, tapi Alhamdulillah masih bisa daftar disana. Bebagai tes
untuk masuk ke MAN Lamongan telalh terlewati dengan mudah, karena sudah
terbiasa saat tes di R-SMAN-BI 2 Jombang, dan soalnya banyak yang mirip.
Dan aku telah menjadi Siswa Baru disini, sekolah yang
mempunyai nilai lebih di kawasan Lamongan, dan aku harus bangga. Sebulan
terlewat untuk siswa baru, dan itupun aku masih saling tukar kabar dengan si
Gadis manis, Intan. Dan terpaksa aku menghentikan hubungan dengan Intan, karena
dia telah mendapatkan tambatan hatinya yang sempurna dibanding aku sendiri, dan
aku harus malu dengan keadaanku.
Beberapa bulan aku hampa tanpa Intan, tapi segera
terobati dan terlupakan oleh tugas yang menumpuk dari sekolahanku.Dan tak punya
waktu untuk memikirkan Intan lagi, lagipula aku menyandang sebagai ketua kelas
di kelasku sendiri.
Nampak jauh dari timur gerbang masuk, namaku dipanggil
seseorang yang taka sing lagi suaranya.
“Misbah. . . .” katanya.
“Daleem” jawabku dengan lembut.
“Kamu sekolah disini kok nggak bilang sih ?” sautnya
kembali.
“Hehehe, sengaja sureprise buat kamu mbak” godaku
dengan manja.
“Ah bisa aja kamu ini, masih saja tengil, yaudah aku
tinggal dulu yah” salam pamitnya.
“Hehehe, oh iya mbak, hati-hati” jawabku.
Dan dia adalah kakak kelasku dari SMP.Dulu dia kurang
dekat denganku, tapi semenjak aku sekolah disini, dia mulai akrab denganku sebagai
adik dan kakak.
Waktu sangat cepat berlalu, dan memaksa aku untuk
mengenal seorang gadis, manis dan cantik pula, namun agak sedikit gemuk,
mungkin kurang suka merawat tubuh dianya. Dia satu kelas denganku, dan semenjak
itu dia menjadi perhatianku di kelas, meskipun dia sangat cuek bebek
denganku.Wajarlah, dia juga belum akrab denganku, meskipun aku sebagai ketua
kelas.Tak lama setelah perkenalan itu, aku mendapat mandate dari wali kelas
untuk mendata semua siswa di kelasku, termasuk didalamnya harus dicantumkan
nomer hape yang bisa dihubungi.Kesempatan emas bagiku untuk bisa berkenalan
lebih dekat dengannya. Nomer sudah ditangan, kuketik kata selamat pagi seperti
yang kulakukan kepada Intan semasa itu, tapi tak seperti Intan, dia lebih cuek,
dan itu suatu tantangan tersendiri bagiku untuk menaklukankannya (kok kaya
hewan aja ditaklukan, hehehe. . . .) maksudnya ditaklukan supaya tidak cuek
lagi dengan semua orang, termasuk aku.
“Pagi. . . .” kataku untuk memulai obrolan di-SMS.
“Sapa ??” jawabnya singkat.
“Aku Misbah, yang kemarin mendata semua siswa dikelas”
lanjut.
“Owalah, oh iya aku ingat, kenapa ya ?ada yang kurang
??” masih saja cuek.
“Nggak ada kok, Cuma mau kenal aja sama kamu”
“Owgh, yaudah kalau gitu” (cueknya orang ini).
Aku nggak tahu harus gimana menghadapi orang secuek
dia. Aku biarkan waktulah yang menjawab.Tapi aku nggak boleh patah semangat
hanya karena sifat cueknya.Ternyata secara tidak kebetulan dia adalah teman
dari temanku yang cukup akrab dariku, namanya Anggun.
“Nggun, kamu kenal Putri kan ??” aku sebut namanya
untuk menjelaskan.
“Iya aku kenal, ada apa ??” jawabnya.
“Nggak apa-apa kok, Cuma Tanya saja”
“Hayoo, kamu suka ya sama dia ??” jawabnya menggodaku
untuk mengaku.
“Ah kamu ini ngawur, mana mungkin aku suka dengan dia,
dia kan cueknya minta ampun” jawabku menghindar.
“Udah ngaku aja deh kamu itu. .”
“Nggak Anggun, aku nggak suka dia, tadi loh cuma mau
tanya aja, nggak lebih kok” jawabku sambil mencubit pipinya yang seperti bakpau
di lampu merah itu.
“Kalau nggak yaudah, tapi nggak usah nyubit juga kali
!” jawabnya sinis.
“Hehehe. . .” senyumku liar.
Ternyata tepat sekali hidupku, mungkin jika aku terus
terang dengan sahabatku tadi bahwa aku senang berkenalan dengan Putri, mungkin
dia bisa meringankan bebanku, atau
mungkin malah dia mengejekku.Aku bimbang dibuatnya, dan aku memutuskan untuk
diam-diam aja jika aku naksir si Putri.Setelah beberapa bulan aku menghadapi
Putri dengan cueknya, tapi aku tetap sabar.Kita hanya sebatas teman yang akrab,
aku malah menggoda Anggun, teman Putri tersebut. Tapi ini beda, ini niatnya
Cuma iseng-iseng aja, mengisi waktu luanglah, kan nggak baik juga jika hidup
hanya untuk memikirkan tugas dari sekolahan, bisa-bisa nggak makan aku jika
hanya memikirkan tugas itu. Dan aku mulai memilih untuk hidup santai tapi
serius.
Kehidupanku tentram tanpa hadirnya Intan dan Putri,
dan aku menikmati itu. Dan waktu berputar cepat sampai Maulid Nabi pun
dirayakan besar-besaran, setelah selang beberapa hari momen-momen mauled itu
terjadi, baju nggak ada yang bersih, dan memaksanya aku untuk mencuci semua
baju kotorku tersebut, dan kuputuskan untuk laundry ditempat biasanya yang
sudah menjadi langganan setiap bajuku kotor. Dan malam itu malam emas
menurutku, walaupun warnanya masih gelap gulita, tapi tetap saja aku menyebutnya
malam emas, kukayuh sepeda bututku untuk segera menuju tempat laundry yang
menunjukkan jam 08.00 lebih, dan akhirnya sampai juga di tempat itu dengan
badan basah kuyup karena keringat yang menetes dengan sendirinya dari badanku.
Setelah kumenyetorkan pakaianku ke petugas laundry, aku berniat untuk pulang
lalu melanjutkan aktifitas seperti biasanya, yaitu berlabuh di lautan kapuk,
ataupun kadang-kadang meramaikan malam dengan bisikan jangkrik yang mengganggu
tidurku, bisa dibilang begadang tanpa sebab juga sih. Tapi dari kejauhan ada dua sosk wanita yang mengagetkan aku
dengan panggilan merdunya kepadaku. Yang satunya aku kenal, karena dia temanku
dari SMP, tapi yang satu lagi aku sangat asing dengan wajahnya karena baru kali
ini aku melihatnya.Dia memanggil aku dari kejauhan berharap aku tidak
meninggalkan tempat dulu. Aku pun masih berdiri tegak dan gugup di depan
laundry yang setelah aku membereskan sepeda bututku karena rantainya rewel, dan
tanganku menjadi hitam semua karena pelumas rantai tersebut.
“Misbah . . .” panggilnya dari kejauhan.
“Iya, kenapa ??” jawabku singkat.
“Aku Mitha, kenalan donk !” ujarnya dengan gaya masa
kini.
“Oh iya, aku Misbah, kamu tadi kok tahu namaku ??”
tanyaku penasaran.
“Itu dari temanku, ternyata benar kamu namanya Misbah,
kukira dia Cuma bohong aja” meyakinkanku.
“Owgh, Pipit toh, dia temanmu ??dia juga temanku kok
dari SMP, meskipun beda dulu SMP-nya” jawabku melanjutkan.
“Oh iya, boleh minta nomer hape-nya ta ??” mintanya
dengan sopan.
Aku gugup di waktu ini, karena baru kali ini aku
melihat gadis yang berani seperti dia.
“Oh iya nggak papa, catet yah !” jawabku sambil
mendikte nomer hape-ku yang bisa dibilang nomer cantik itu.
Setelah aku sampai di pondok, tempatku menuntut ilmu
agama pula. Hape-ku kemudian bordering, kukira dari siapa, ternyata dari gadis
yang kukenal tak lama sebelum aku sampai di pondok, yups !dia Mitha, nama yang
sangat bagus di jaman ini. Dia sangat baik denganku, akupun menyambutnya dengan
baik seperti perlakuannya denganku.Dan hanya dalam beberapa minggu aku mengenal
dia, langsung timbul rasa-rasa yang sangat berbeda dibanding aku mengenal
sahabat penaku yang lainnya.Rasa ini seperti mengantarkanku ke Surga dunia yang
penuh dengan kenikmatan dan abadi.Atau mungkin hanya perasaanku yang terlalu
berlebihan saja dengannya.Dan aku galau disaat itu. Aku Suka Kamu !ingin
kuucapkan kata-kata itu didepannya, namun aku masih belum punya keberanian,
takutnya dia sudah punya pacar dan menolak mentah-mentah argumenku tersebut. Akupun
menyimpan kata-kata itu di hati yang paling mendasar dan dalam, siapa tahu saja
dia nanti mengerti tentang perasaanku dengan sendirinya.Mungkin aku terlalu
terjebak masa lalu, yang selalu salah dalam memilih pasangan, walaupun itu
hanya untuk sementara.
Aku selalu menggali informasi tentang dia, aku Tanya
sana sini tentang seluk beluk, lika liku kehidupannya, apakah dia memang
benar-benar masih sendiri atau sudah mempunyai pasangan hati yang sebelumnya
tidak aku ketahui.
“Pit, gimana kabarnya”
“Baik Mis, ada apa ?”
“Oh nggak ada apa-apa, Cuma mau Tanya aja, boleh”
“Boleh kok,
masa’ Cuma Tanya aja nggak boleh” jawabnya singkat.
“Aku mau Tanya tentang teman kamu itu” pertanyaanku
pertama padanya.
“Siapa ?Mitha ??” terkanya.
“Hehehe. . .iya Pit” senyumku malu.
“Dia orangnya baik nggak ?dia udah punya pacar ??”
tanyaku penasaran.
“Oh, dia baik kok, sangat baik malahan, kenapa ?kamu
naksir yah ??” tebaknya mengarang.
“Hehehe . . .iya Pit, kamu jangan bilang ke dia yah
kalau aku naksir dia” pintaku lembut.
“Oh tenang aja, dia belum punya pacar kok” terangnya.
“Serius ?” tanyaku untuk menyakinkan.
Aku langsung pergi meninggalkan Pipit yang tampaknya
bingung dengan sikapku, mungkin saat ini lagi benar-benar jatuh cinta.Falling
in Love with Mitha. Tepat sekali pernyataan itu, tapi lagi-lagi aku dibikin
gugupnya saat dia mengajakku bertemu di area luas Lamongan, alun-alun kota
Lamongan tentunya, yang kebetulan lumayan dekat dengan pondokku. Aku siap saat
hari pertama jalan dengannya, yah walau sedikit gugup menyelimuti tubuhku. Aku
merangkai kata guna persiapan mau ngomong apa nanti aku di depannya. Kata-kata
manis ialah makananku sehari, maklum lah, kata teman dekatku, aku pintar sekali
kalau urusan membuat syair mesra. Tapak demi tapak kuniatkan untuk bertemu
pujaan hati, kurang lebih satu jam terlewat untuk mengobati rasa pengen yan
selama ini bersembunyi di bebatuan terjal, tepatnya di selubung hatiku.
Kring. . .kring. . .kring. . .
Suara bel shubuh telah digapai abah yai untuk
membangunkan santrinya, termasuk aku yang langsung terjingkat kaget. Basuhan
air wudhu menyejukkan tubuhku, ketukan tangan abah yai di depan pintu musholla,
bermaksud untuk membangunkan lagi santri-santri yang masih menikmati liburannya
di pula kapuk. Aku menyambangi hape-ku, lalu kubuka aplikasi pesan, berniat membangunkan
sang pujaan hati untuk sholat shubuh. Senang sekali ketika dia membalas SMS-ku
dengan pesan manis dengan tanda senyuman di bawahnya. Aku berjingkat lagi untuk
memenuhi kewajibanku kepada sang Khaliq, sholat subuh dulu ya biar nggak panic,
hehehe. . . .
Jam tujuh sebentar lagi, saatnya melangkahkan kaki
untuk mencari bekal masa depan nanti. Dengan sepatu hitam dan tas kesayangan,
bermeter-meter jalan terlewati hanya dalam hitungan menit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.