Siapa yang tidak tahu soal cinta, semua orang di dunia ini, mulai
dari yang kecil ke yang besar, semua tahu apa itu cinta, hanya orang-orang yang
gagal mengenal cintalah yang terpaksa memunafikkan cinta, padahal mereka
tersebut sangat merindukan cintanya kembali.
Dulu waktu diriku masih sangat kecil, gue mulai mengenal cinta,
yaitu cinta dari kedua orang tugue, merekalah yang membimbingku hingga sampai
sebesar ini, mereka merawat dan menjaggue dari cinta mereka, mereka membuatku
hidup karena cinta dan kasih sayang mereka, hingga gue harus merasakan cinta
dari seseorang selain dari mereka.
15 tahun gue hidup karena cinta dari orang tua, dan di akhir 15
tahun pula gue mengenal cinta yang baru, cinta yang selain dari mereka berdua.
Sejak 15 tahun pula gue berusaha mencari yang namanya cinta, tapi tidak pernah
ketemu hingga di akhir 15 tahunku, meskipun banyak yang singgah di mahligai
cintgue, namun sebenarnya itu bukan cinta, itu hanyalah rasa yang mirip dengan
cinta, rasa itu namanya sayang. Banyak orang yang pernah gue sayangi, namun
belum mestinya kalau sesuatu yang disayangi itu harus dicintai. Dan itulah gue,
gue selalu menemukan sayang, sampai akhirnya saat 15 tahun terakhirku yang
kusebut cinta telah kutemukan.
MAN Lamongan menjadi saksi akan gue dan dia, di tempat itu pula yang
dinamakan “dari mata jatuh ke hati” itu terjadi padgue. Di salah satu tempat
pencucian umum tak sengaja gue bertemu dia, sekilas mata ini rabun akan
kegelapan malam, namun hanya pancaran dari dirinyalah yang membuat mata ini
kembali normal. Seperti biasa, gue adalah pendatang baru di kota ini, yang
sebelumnya gue hidup di desa. Gue harus banyak mencari teman dan harus
pintar-pintar untuk memilihnya. Di malam itu, kesempatanku untuk menambah skala
teman di kota ini. Dia menjumpai gue terlebih dahulu, jantungku bak campur
dengan gendang Soneta yang tidak bisa berhenti bergetar saat pertama kali
kumelihatnya. Dia mengulurkan tangan lembutnya itu ke arahku, guepun menyambut
tangan tersebut, mesikpun saat itu tanganku kotor sehabis memperbaiki sepedgue
yang rusak akibat rantainya lepas. Tapi oli yang menempel di tanganku tak
menyusutkan niatku untuk menjawab beberapa pertanyaannya, dan gue resmi
mendapatkan teman baru di malam itu. Namanya Mitha, nama yang cantik seperti
orangnya, dan nama yang manis seperti senyumnya.
Hari-hari selanjutnya tak pernah sepi, karena ponselku selalu ramai
akan pesan darinya, gue awalnya tidak percaya kalau pertemuan yang begitu
singkat dan sederhana tersebut bisa mengisi kekosongan di hati dan hidupku. Gue
sangat menghargai kedatangannya, mungkin dia adalah peri yang sengaja
dikirimkan tuhan untuk mengisi kesunyian di setiap hari-hariku biasanya. Gue
juga sangat berterima kasih atas sahabatku, yang kelihatannya ia duduk di
samping Mitha saat itu.
Hari-hari selanjutnya setelah pertemuan itu, gue semakin dekat
dengannya. Sampai akhirnya hasratku ingin bertemu lagi dengannya muncul, rasa
tersebut sangat mendesak di dalam hati, rasa tersebut adalah kangen. Gue merasa
bersalah jika kangen dengan orang yang baru saja gue kenal, diapun bukan
siapa-siapgue, kami hanya terikatkan dengan kaata teman baru. Gue memberanikan
diri untuk menawarinya bertemu di suatu tempat, gue sangat terkejut saat dia
menjawab pesanku dengan kata-kata setuju, rasanya jiwa ini ikut terbang untuk
menyusul burung-burung malam yang berlalu lalang di atas teras pondokku.
Menjelang pertemuan itu, gue dibuat gugup olehnya. Diri ini ragu,
apakah gue harus menemuinya, ataukah gue menundanya? Diri ini masih terselimuti
rasa malu dan rendah diri untuk bertemu dengannya, namun di sisi lain diri ini
tidak bisa menolak untuk bertemu dengannya. Dan gue memutuskan untuk bertemu
dengannya.
Malam pertama pertemuan kita, sangat sederhana sekali dan tak ada
yang menarik. Hanya bertatap muka saja sudah cukup untuk melunturkan rasa
kangen ini kepadanya. Alun-alun kota menjadi tempat kedua kita bertemu, dan di
tempat itu pula rasa kangenku luntur dengan senyuman manisnya, di saat itu dia
memakai kerudung, gue seperti tak mengenalinya saat itu, karena dia memang
lebih cantik kalau pakai kerudung, jika dibandingkan dengan membuka mahkotanya
tersebut. Pertemuan sesaat menjadi obat hatiku untuk sementara waktu ini, entah
nanti mungkin gue akan merasakan rasa rindu yang lebih dari ini.
Gue pulang dengan rasa bangga, gue pulang dengan senyuman lebar.
Meskipun hanya bertemu sesaat, namun momen singkat itu sangat berharga untuk
kesekian kalinya gue dengannya. Tak perlu waktu yang lama untuk menimbulkan
kesan yang berharga, lebih baik waktu yang singkat namun yang mengena di hati.
Pagi di hari minggu, nggak ada rencana yang begitu penting untuk
hari ini. Mungkin hanya tidur untuk mengisi kekosongan di minggu ini. Setiap
mau tidur, nggak pernah selelap dulu, dulu tidurku sangat pulas, sampai abah
yai ngaji di bawah gue nggak kebangung. Gue nerusin aja lamunan yang sempat
terpenggal oleh malam kemaren. Lamunanku semakin menjadi-jadi setelah gue
melihat wajahnya di malam itu, mungkin rasgue naik tingkat, yang awalnya hanya
kangen saja, tapi sekarang telah menjadi kasmaran tingkat dewa.
“hey bro, kenapa lu dari kemaren kok bengong gitu?”
“eh nggak apa-apa bro, Cuma lagi bingung aja masalah pelajaran,
banyak banget bro tugasnya”. Balasku dengan masih nerusin bengong.
“ah kayaknya nggak deh, lu kayaknya nggak mikirin pelajaran, beda
loh bengongnya itu!”
“hehehe. . .beda gimana sih bro? perasaan sama aja deh, yang namanya
bengong itu ya kayak gini!”
“yaudah deh bro, lanjutin aja bengongnya. Tapi kalo ada apa-apa, gue
ada di samping lu yah!”
Semua orang sudah pergi, sekarang hanya tinggal gue dan lamunanku
yang terkurung di kamar ini. Lebih baik gue ngelamun lagi aja, nggak usah
ngurusin teman-teman yang sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri, dan pekerjaanku
saat ini adalah ngelamun, ngelamun si dia.
Jarum jam sudah di angka tujuh, dan nggak mungkin gue terus menerus
ngelamunin dia mulu, gue tinggal saja lamunanku untuk sementara.
“hay lamunan, gue tinggal nyuci dulu yah, ntar kita lanjutin lagi
mainnya. Hehehe. . .”
Capek rasanya setelah nyelesaiin cucian yang banyak ini. Tapi gimana
lagi, cucian sudah banyak banget, baju putih juga belum ku cuci saat itu. Namun
semuanya beres, kegiatan cuci mencuci sudah selesai, sekarang tinggal mencuci
badan, biar wangi dan nggak bau lagi. Hehehe. . .
Nyanyi-nyanyi kecil sudah kebiasaanku saat mandi, tak peduli mau
orang bilang apa tentang suaraku, namun gue tetap PD saja, anggap saja nggak
ada orang, dan suara-suara mereka anggap saja seperti gemercik air kran.
“hey boy, apa nggak bisa
diam kalu mandi?”. Bentak orang di sebelahku.
“hahaha. . .nikmatin aja bro suara gue, nggak usah
protes”
Aku nggak peduli dengan orang-orang di sekitarku,
meskipun aku memang salah, tapi aku juga akan tetap senang, karena itu juga kan
diriku, nggak orang lain yang melakukannya.
Hidupku bahagia karena kedatangannya, dan mungkin akan hancur atas
kepergiannya. Aku hidup bahagia saat ini, dan semoga aku lebih bahagia lagi
jika aku bias hidup dengannya dengan cinta.
l sty� t x (c � ustify;text-indent:1.0cm;line-height:
normal'>Benturan keras antara motor yang kita kendarai tadi
dengan suat mobil truck yang dikendarai oleh pengendara mabuk. Tubuhku
terpental jauh dari tempat kejadian, namun aku masih tetap bangun, meskipun
kaki kiriku sudah mati rasa karena mungkin putus akibat benturan tadi. Aku
terus menelusuri jalan untuk bisa melihat keadaan dia yang masih di tempat
kejadian. Entah mengapa kejadian ini harus terjadi, disaat aku ingin
mengungkapkan rasa yng mendesak di hati ini kepadanya. Nampaknya sopir truck
itu sudah berlari pasca tabrakan. Yang tidak bisa kupercaya, tubuh gebetanku
tadi sudah berlumuran darah, kepalanya berdarah karena terbentur batu di
pinggir jalan. Aku berasa menangis darah, berasa seperti seluruh tubuhku
terkena stroke, aku sangat tak berdaya melihatnya berlumuran darah seperti itu.
Segera aku telepon polisi dan rumah sakit untuk mengurus kami, di jalanan sepi
sehingga nggak ada orangpun yang bisa kumintai pertolongan, 15 menit polisi
dating dengan membawa ambulance rumah sakit yang bersangkutan, segeralah kami
diangkut ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang serius. Di gang rumah
sakit, aku dan dia dipisahkan, aku didorong menuju ruangan instalasi gawat
darurat, dan dia harus mendekap di ruang ICU. Dia sangat parah, setelah aku
sadar dan baikan dari masa perawatanku, aku menjenguk dia di ruang ICU, dan
nampaknya dia sudah dipindahkan ke ruang IGD, harapanku ialah semoga dia
baik-baik saja dan cepat sembuh.
Aku menangis di sampingnya, aku menyesal, kenapa aku
harus mengajaknya jalan, andai perasaan ini aku tundah sebentar, mungkin maut
ini tidak akan menimpa kami. Namun sudah takdir Allah seperti ini, dan tambahan
pula aku harus menghadapi orang tuanya. Mereka menangis saat melihat keadaan
anaknya. Hampir aku mau dibunuh oleh ayahnya, ketika beliau tau bahwa yang
membuat anaknya berbaring lemah di rumah sakit ini adalah aku. Perleraian yang
hebat antara ayahnya dan aku sudah selesai, ibunya memisah perleraian kita. Aku
sangat menyesal sekali dan aku harus bertanggung jawab atas hal ini. Orang
tuaku yang berada di luar negeri hampir shock saat mendengar berita ini, anak
semata wayangnya hampir menghilangkan nyawa orang dengan hal yang konyol itu,
namun orang tuaku mengerti, dan membantuku untuk menanggung semua biaya dan
merawat dia sampai sembuh seperti semula.
Aku terus berada di sampingnya dari waktu ke waktu,
semua mata kuliahku aku tinggalkan demi menjaganya, menjaga orang yang sangat
aku cintai itu. Aku tidak peduli dengan kuliahku, aku lebih peduli kepada
seseorang yang mampu membuatku tersenyum dalam tangisku, aku lebih memilih dia.
Seluruh temanku besimpati kepadaku dan atas kejadian tersebut, mereka sampai
menggalangkan dana untuk simpati ke kami, aku sangat terharu melihat
solidaritas teman-teman yang begitu hebatnya.
Di rumah sakit hanya ada aku, dia, suster dan dokter
yang terkadang mengecek keadaannya, dan sering pula teman-teman menjenguknya
dan memberikanku support agar tidak menyerah dalam masalah ini. Namun orang
tuanya tak Nampak lagi setelah kejadian pertama itu, mereka sudah mempasrahkan
anaknya itu kepadaku, dan aku sangat mengerti. Sudah 2 minggu dia menjalani
hidupnya di atas ranjang biru, dan 2 minggu pula aku tak lekang dari
sampingnya. Aku kasihan melihat dia, aku selalu berusaha berkomunikasi
dengannya, meskipun aku tahu dia tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaanku
itu.
Di malam minggu yang kedua, aku harus menutup kedua
mataku, aku harus mengunci rapat-rapat mulutku. Ketika dokter telah memvonis
dia akan lumpuh seumur hidup, aku tak begitu sedih, namun saat dokter itu
memberitahukan tentang ini, nampaknya aku harus menggantikan posisinya.
“Sabarlah anakku, mungkin dia akan tersenyum diatas
sana, dia sudah tidak bisa tertolong lagi” kata dokter itu yang sentak
mengejutkan aku.
Hatiku bagai tercambuk oleh gada besi, seolah-olah aku
nggak bisa menerima takdir pahit ini, “Ya Allah, kenapa engkau ambil dia disaat
dia belum tahu perasaanku sesungguhnya ya Allah, andai jika dia sudah
mengetahui, aku pasti sedikit lebih lega ya Allah” kata-kata itu sempat terucap
beberapa kali di pikiranku, hingga sampai kedua orang tuanya dating dan
menangisi jasad anaknya itu. Aku menyuruh mereka untuk sabar, dan aku minta
maaf kepada mereka, berkat kecerobohanku hingga sampai begini.
“Ini bukan salahmu anak muda, ini memang sudah
kehendak tuhan yang maha kuasa, kami ikhlas atas kepergian anak kami itu, dan
kamu juga harus ikhlas untuk ditinggalkannya selamanya” tutur mereka yang
sangat bijak, dan membuat hatiku lega namun masih kehilangan.
“Bahagialah disana sayang, ma’af aku belum sempat
untuk mengucapkan bahwa aku cinta kamu, namun memang benar, aku benar-benar
sangat mencintai kamu, andaikan kamu masih hidup, akan kuajak engkau duduk
diatas pelaminan di malam minggu ini, terima kasih sayang, kamu telah mengisi
malam-malam mingguku dengan senyuman dan suaramu. Aku sangat mencintai kamu,
dan ini adalah malam minggu terakhir kita, bahagialah disana sayang” bisikku
dengannya, walaupun aku tahu, bahwa dia nggak akan hidup untuk yang kedua
kalinya.
Rintihan hujan seolah ikut menangisi kepergiannya dari
dunia ini, namun aku tetap harus menerima kenyataan ini, meskipun masih sedikit
nggak percaya, bahwa seseorang yang baru aku kenal dan aku sayangi tersebut
harus meninggalkan aku lagi untuk selama-lamanya. Dan sekarang hanyalah do’a
yang bisa menjadi alat komunikasi kita. “Selamat jalan sayang, semoga engkau di
tempatkan di tempat yang layak di sisi-Nya. Aamiin. . .” doaku yang saat itu
mengiringi kepergiannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.