Malam Minggu

Malam minggu, malam yang indah bagi para muda-mudi untuk memadu kasih sayang yang begitu mesra, malam yang tiap sudut selalu diisi dengan gandengan mesra berbagai pasangan yang mengitari jalanan, malam yang juga hanya diisi tidur nyenyak oleh sang jomblo-jomblo bahagia. Kalau ditanya soal kegiatan malam minggu, aku dengan lantangnya menjawab bahwa aku selalu pacaran, sebut saja dia Oshi dan Indri, dia adalah kedua pacarku yang setia menemaniku disaat gundahnya malam minggu, bukannya aku pamer dengan kedua pacarku tersebut, asal kalian tahu aja, mereka sebenarnya hanya sebatas kedua gadgetku yang sengaja kuberi nama cewek, agar nggak kelihatan kalau cowok secakep dan sekeren aku belum punya pacar juga. Hehehe. . .
Setelah kejadian 2 tahun silam, aku belum punya nyali untuk pacaran lagi, bukannya aku takut akan patah hati lagi, namun hanya sekedar belum siap. “Aku sangat mencintai kamu”, kata-kata itu sudah tak pernah kuucapkan lagi setelah kejadian itu, paling-paling cuma sama kedua gadgetku tadi, itu juga nggak ada renspon sama sekali dari mereka, yah maklumlah, namanya juga benda mati, mana bisa jawab?. Hehehe. . .
Aku punya teman banyak, banyak sekali, di kampus aku sangat diingat oleh guru-guru, yah mungkin karena aku ini anaknya memang sangat aktif, aktif dalam bertanya, diskusi, sampai-sampai aktif dalam tidak mengerjakan tugas-tugasku. Banyak teman-temanku yang bingung dengan sikapku, mereka menganggap aku seorang gay, karena aku tidak pernah pacaran lagi semester kedua. Tapi anggapan mereka itu salah, masak orang sekeren aku ternyata gay? Percuma dong tuhan bikin makhluk semenarik saya? Hehehe. . . Hingga ada salah satu temanku mempromosikan diriku di ajang cari jodoh, keterlaluan bangetkan dia? Tapi nggak apa-apalah, setidaknya hingga saat ini aku belum merasakan patah hati yang selanjutnya, yah karena belum punya pacar lagi. Hingga saatnya aku sudah mulai jadi PL, aku berlagak kejam kepada adik-adikku yang melakukan ospek di kampus tempatku kuliah tersebut. Dua hari sudah terlewati tugasku menjadi PL, dan adik-adik kelas yang cewek sudah banyak banget bekasnya dimataku, namun masih belum punya sasaran yang cocok untuk melabuhkan hati ini lagi di dermaga para cewek tersebut. Hingga saatnya aku membentak mahasiswa baru yang sama sekali belum pernah aku lihat 2 hari lalu, nampaknya aku tak tega membentak dia, karena aku takut kulit mulus nan putihnya tersebut jadi bengkak gara-gara gelombang megaphone yang kupakai, namun itu harus terjadi, karena dia terlambat di ospek hari ketiganya ini, aku harus menghukum dia.
“Hei kamu yang disana! Cepat kamu mendekat, dengar nggak aku ngomong disini, cepat mendekat ke kakak!” bentakku.
“Kamu mahasiswa baru kan? Seharusnya kamu tahu arti disiplin, mau jadi apa kamu kalau ospek saja kamu telat? Kamu layak nggak kuliah disini? Coba jawab! Jangan diam saja” terusku dengan keras.
“Iya kak! Aku minta maaf, tadi di jalanan macet, nggak ada angkutan umum kak, jadi aku harus jalan kaki dari rumah sampai ke kampus kak!” jawabnya lembut.
“Kayaknya lain kali aku bisa menawari tebengan ke kampus nih, dia cantik banget” pikirku.
“Ya cari akal dong dek, jadi mahasiswa itu harus kreatif, kakak nggak mau tahu, kamu akan kakak hokum, cepat lari sambil jongkok mengelilingi kakak 15 kali”
“Hah kak! Jangan banyak-banyak dong kak, aku kan udah capek lari-lari dari rumah kesini” bantahnya.
“Oh kebanyakan? Yaudah kalau gitu kakak turunin jadi 20 kali. Cepaatt!” bentakku lagi.
“Ya Allah, siap kak! Segera” jawabnya tanda mengerti.
Kegiatan ospekpun hampir selesai hari ini, dan aku nampaknya masih bingung, “kenapa ada bidadari yang nyasar kuliah disini yah?” suara merdu gadis tadi membuyarkan lamunanku, nampaknya dia sedang memanggilku.
“Hai kak! Kakak nggak pulang?” tanyanya pelan.
“Oh adek tadik, ya pulang dong dek, tapi nanti aja, masih males kok” jawabku sambil tersenyum.
“Oh, lagi nunggu pacarnya ya kak?” tanyanya.
“Hahah. . . nggak kok dek, aku masih sendiri kok, belum punya pacar. Heheh. . .” jawabku malu.
“Hah nggak mungkin kak, nggak percaya deh kalau kaka masih sendiri”
Percakapan yang awalnya tak sengaja dimulai, kini berubah menjadi obrolan-obrolan ringan, dan membuat kita semakin akrab saja di hari pertama bertemu ini. Aku mulai menaruh rasa dengan dirinya, dan tampaknya diapun sama denganku. Sering kali niatku untuk mengakhiri masa lajangku ini berakhir disini, nampaknya aku sudah nyaman mulai dari saat kita pertama bertemu, yah meskipun pertemuannya nggak baik sih, pertemuan di depan megaphone dengan suara yang melengking tinggi, namun pertemuan sekonyol itu siapa tahu nanti bisa menjadi awal dari kebahagiaanku.
Sejak pertemuan itu, kami mulai akrab sampai banyak orang yang menganggap kami pacaran, padahal sama sekali salah, aku dan dia masih terikat ikatan senior dan junior, dan nggak lebih. Karena sifat melamunku yang semakin menjadi-jadi, aku mulai nggak konsen lagi saat jam kuliah, di pikiranku hanya ada namanya, namanya dan namanya, senyumannya yang menambah efek manis, dan wajahnya yang sangat mempesona. Temanku mulai bingung dengan keadaanku saat ini, mereka beranggapan aku dibuat gila oleh gadis itu, dan itu memang benar, aku dipaksa untuk memikirkan gadis itu. Setelah beberapa saran dari temanku, bahwa aku harus memberi garis jelas tentang hubunganku dengannya, dan aku harus melakukan itu. Beberapa kali aku mencoba untuk mengutarakan rasaku kepadanya, namun seperti yang semua bilang, melakukan lebih sulit dibanding hanya bicara saja.
Sejak aku bertemu dengan dia, beberapa malam mingguku beda dengan yang sebelumnya, malam mingguku lebih berwarna dibanding malam minggu yang sebelumnya. Kuisi ditiap malam minggu dengan yng berhubungan dengannya, entah aku harus menelponnya, atau dan lain-lain, hanya dialah yang bisa membuat kertas malam mingguku menjadi lebih berwarna. Jikalau seperti notebook, dia adalah batrenya, menjadikanku hidup disetiap malam mingguku, bahkan setiap saat, dia sudah bisa ngalah-ngalahin rexona, yang katanya siap setiap saat. Heheh. . .
Sudah 2 bulan lebih kumenjalani hubungan yang nggak jelas dengannya, mungkin lebih condong ke status sahabat dekat daripada pacar. Terkadang aku kasihan melihatnya, terlihat dia juga suka padaku, namun aku mengerti, dia cewek, dia tidak mungkin untuk memulai duluan, dan ini adalah tugas seorang lelaki sejati yang mengawalinya.
Malam minggu berikutnya, bertepatan dengan 2 bulan kita bertemu, aku mengajaknya untuk pergi ke suatu tempat, dimana disanalah nanti aku akan mengungkapkan, jika aku benar-benar sangat sayang padanya, dan aku sangat sedih dan kehilanagan jika suatu saat nanti kita harus berpisah tanpa tau kalau aku sangat menyayangi dan mencintai dia, hanya dialah yang bisa merubah jalan hidupku. Pukul 19.00 aku menjemputnya, dengan motor yang apa adanya aku percaya diri memboncengnya. Dan waktu dalam perjalanan ke tempat itu. . .
“Brraaakk. . .!”
Benturan keras antara motor yang kita kendarai tadi dengan suat mobil truck yang dikendarai oleh pengendara mabuk. Tubuhku terpental jauh dari tempat kejadian, namun aku masih tetap bangun, meskipun kaki kiriku sudah mati rasa karena mungkin putus akibat benturan tadi. Aku terus menelusuri jalan untuk bisa melihat keadaan dia yang masih di tempat kejadian. Entah mengapa kejadian ini harus terjadi, disaat aku ingin mengungkapkan rasa yng mendesak di hati ini kepadanya. Nampaknya sopir truck itu sudah berlari pasca tabrakan. Yang tidak bisa kupercaya, tubuh gebetanku tadi sudah berlumuran darah, kepalanya berdarah karena terbentur batu di pinggir jalan. Aku berasa menangis darah, berasa seperti seluruh tubuhku terkena stroke, aku sangat tak berdaya melihatnya berlumuran darah seperti itu. Segera aku telepon polisi dan rumah sakit untuk mengurus kami, di jalanan sepi sehingga nggak ada orangpun yang bisa kumintai pertolongan, 15 menit polisi dating dengan membawa ambulance rumah sakit yang bersangkutan, segeralah kami diangkut ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang serius. Di gang rumah sakit, aku dan dia dipisahkan, aku didorong menuju ruangan instalasi gawat darurat, dan dia harus mendekap di ruang ICU. Dia sangat parah, setelah aku sadar dan baikan dari masa perawatanku, aku menjenguk dia di ruang ICU, dan nampaknya dia sudah dipindahkan ke ruang IGD, harapanku ialah semoga dia baik-baik saja dan cepat sembuh.
Aku menangis di sampingnya, aku menyesal, kenapa aku harus mengajaknya jalan, andai perasaan ini aku tundah sebentar, mungkin maut ini tidak akan menimpa kami. Namun sudah takdir Allah seperti ini, dan tambahan pula aku harus menghadapi orang tuanya. Mereka menangis saat melihat keadaan anaknya. Hampir aku mau dibunuh oleh ayahnya, ketika beliau tau bahwa yang membuat anaknya berbaring lemah di rumah sakit ini adalah aku. Perleraian yang hebat antara ayahnya dan aku sudah selesai, ibunya memisah perleraian kita. Aku sangat menyesal sekali dan aku harus bertanggung jawab atas hal ini. Orang tuaku yang berada di luar negeri hampir shock saat mendengar berita ini, anak semata wayangnya hampir menghilangkan nyawa orang dengan hal yang konyol itu, namun orang tuaku mengerti, dan membantuku untuk menanggung semua biaya dan merawat dia sampai sembuh seperti semula.
Aku terus berada di sampingnya dari waktu ke waktu, semua mata kuliahku aku tinggalkan demi menjaganya, menjaga orang yang sangat aku cintai itu. Aku tidak peduli dengan kuliahku, aku lebih peduli kepada seseorang yang mampu membuatku tersenyum dalam tangisku, aku lebih memilih dia. Seluruh temanku besimpati kepadaku dan atas kejadian tersebut, mereka sampai menggalangkan dana untuk simpati ke kami, aku sangat terharu melihat solidaritas teman-teman yang begitu hebatnya.
Di rumah sakit hanya ada aku, dia, suster dan dokter yang terkadang mengecek keadaannya, dan sering pula teman-teman menjenguknya dan memberikanku support agar tidak menyerah dalam masalah ini. Namun orang tuanya tak Nampak lagi setelah kejadian pertama itu, mereka sudah mempasrahkan anaknya itu kepadaku, dan aku sangat mengerti. Sudah 2 minggu dia menjalani hidupnya di atas ranjang biru, dan 2 minggu pula aku tak lekang dari sampingnya. Aku kasihan melihat dia, aku selalu berusaha berkomunikasi dengannya, meskipun aku tahu dia tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaanku itu.
Di malam minggu yang kedua, aku harus menutup kedua mataku, aku harus mengunci rapat-rapat mulutku. Ketika dokter telah memvonis dia akan lumpuh seumur hidup, aku tak begitu sedih, namun saat dokter itu memberitahukan tentang ini, nampaknya aku harus menggantikan posisinya.
“Sabarlah anakku, mungkin dia akan tersenyum diatas sana, dia sudah tidak bisa tertolong lagi” kata dokter itu yang sentak mengejutkan aku.
Hatiku bagai tercambuk oleh gada besi, seolah-olah aku nggak bisa menerima takdir pahit ini, “Ya Allah, kenapa engkau ambil dia disaat dia belum tahu perasaanku sesungguhnya ya Allah, andai jika dia sudah mengetahui, aku pasti sedikit lebih lega ya Allah” kata-kata itu sempat terucap beberapa kali di pikiranku, hingga sampai kedua orang tuanya dating dan menangisi jasad anaknya itu. Aku menyuruh mereka untuk sabar, dan aku minta maaf kepada mereka, berkat kecerobohanku hingga sampai begini.
“Ini bukan salahmu anak muda, ini memang sudah kehendak tuhan yang maha kuasa, kami ikhlas atas kepergian anak kami itu, dan kamu juga harus ikhlas untuk ditinggalkannya selamanya” tutur mereka yang sangat bijak, dan membuat hatiku lega namun masih kehilangan.
“Bahagialah disana sayang, ma’af aku belum sempat untuk mengucapkan bahwa aku cinta kamu, namun memang benar, aku benar-benar sangat mencintai kamu, andaikan kamu masih hidup, akan kuajak engkau duduk diatas pelaminan di malam minggu ini, terima kasih sayang, kamu telah mengisi malam-malam mingguku dengan senyuman dan suaramu. Aku sangat mencintai kamu, dan ini adalah malam minggu terakhir kita, bahagialah disana sayang” bisikku dengannya, walaupun aku tahu, bahwa dia nggak akan hidup untuk yang kedua kalinya.

Rintihan hujan seolah ikut menangisi kepergiannya dari dunia ini, namun aku tetap harus menerima kenyataan ini, meskipun masih sedikit nggak percaya, bahwa seseorang yang baru aku kenal dan aku sayangi tersebut harus meninggalkan aku lagi untuk selama-lamanya. Dan sekarang hanyalah do’a yang bisa menjadi alat komunikasi kita. “Selamat jalan sayang, semoga engkau di tempatkan di tempat yang layak di sisi-Nya. Aamiin. . .” doaku yang saat itu mengiringi kepergiannya.

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.