Awal kujalani kehidupanku di kota besar yang bertujuan
untuk mencari ilmu, dan mencari bekal untuk membanggakan orang tuaku yang sudah
bersusah payah untuk membiayaiku sekolah sampai ke jenjang perkulaiahn, di
sekolahan yang cukup terpandang di kota ini. Senin yang indah untuk mengawali
hariku di tepat tinggalku yang baru, kost-kostan menjadi pilihan terakhirku
untuk hidup di tempat yang serba mahal ini, semua benda terlihat asing di
mataku, semula mata ini hanya tersuguhi oleh pemandangan-pemandangan yang asri,
pemandangan yang alami, semula mata ini dibuat untuk melihat pemandangan
pedesaan yang setiap paginya terdapat tontonan konser music yang dibuat
langsung oleh burung-burung yang menari di angkasa raya untuk menyambut pagi,
dan pagi ini mataku sudah bertatapan langsung dengan asap knalpot, yaa
maklumlah, namanya juga kota besar, lebih sedikit tempat hijau daripada di
desaku.
Uang masih banyak, dan harus kumanfaatkan jangan
sampai habis hanya dalam hitungan minggu ini saja, maklumlah kebutuhan anak
muda kan lebih banyak dibanding anak kecil, apalagi hidup di sini, semuanya
serba bayar, kencingpun bayar, padahal di desaku kencing bisa dimana saja, di
empang sebelah mungkin bisaanya, sekalian buat makanan ikan disana, hehehehehe.
. .
Aku sekolah di Universitas, sekolah yang sudah
kuimpikan sejak aku masih SD, aku sangat tertarik untuk sekolah disini,
meskipun harus siap dengan gemblengan guru-guru dan senior yang semuanya aktif
dibidangnya masing-masing. Hari pertama aku sekolah, sudah banyak kakak-kakak
kelas yang sebagian besar tahu tentang diriku, tentunya yang cewek-cewek,
maklumlah kata ibuku aku ini sih sedikit cakep (Cuma ibu doang yang bilang
kayaknya), aku sih respect aja sama mereka, masa’ aku harus cuek, aku kan anak
baru.
Semua berjalan lancar, aku masuk di kelas yang cukup
menyenangkan, tapi ya gitu, agak sedikit ngebosenin, soalnya ceweknya nggak ada
yang cakep, hehehe . . . Tapi ada satu wanita yang bikin aku sedikit beda saat
memandangnya, dia duduk di depanku. Tapi, sifat cueknya itu loh yang bikin
tantangan buat aku untuk mendapatkannya. Namanya Putri, nama yang sangat cocok
untuk gadis secantik dan semanis dia, tapi yang bikin nggak cocok ya sifatnya
tadi, mana ada tuan putri yang cuek, semua tuan putri kan ramah. Sudahlah
lupakan saja tentangnya. Hari-hariku semakin terwarnai oleh wajahnya, tapi
sayangnya harapanku untuk melihat senyumnya mungkin hanya impian saja, dia
kalau masalah senyum sangat pelit, padahal kan cuma menarik mulut aja keatas.
Aku mulai genit dengannya, kuberharap dengan cara itulah aku dapat melihatnya
untuk pertama kali tersenyum, Alhamdulillah usahaku nggak sia-sia, saat
kupancing dia dengan rayuan yang manja, dia tersipu malu dan kemudian senyum.
Sungguh menawan senyumannya itu, kalau boleh sedikit aku alay,
sampai-sampai senyumannya terbawa mimpi tidurku.
Sebulanpun mungkin sudah kulewati kehidupan di Jakarta,
aku mulai merasa kesepian tanpa hadirnya seorang tambatan hati, kufikir aku
harus punya pacar.Nggak kefikiran tentangnya jika aku harus menjadikannya
sebagai pacar, mungkin terlalu banyak saingan jika harus mendapatkannya.Aku
mulai pesimis untuk menjadikannya kekasih.Mulailah aku untuk PDKT dengannya,
kebetulan aku jadi ketua kelas, dan saat itu aku disuruh wali kelas untuk
mendata semua siswa di kelas itu, termasuk untuk mencantumkan nomer teleponnya
masing-masing.Menurutku sebuah kesempatan yang baik untuk lebih dekat
dengannya.Dapat deh nomernya, waktunya untuk SMS dia, kata hay pun aku
gugup untuk mengirimkan ke nomernya, dan jari ini tak sengaja menekan tombol
tengah, dan itu artinya pesan sudah terkirim.Aku kaget saat telepon genggamku
berbunyi, tak sadar jika itu balasan pesanku tadi. “Hay juga” katanya, tak
canggunglah aku untuk saling bertukar pesan dengannya.
Kedekatan kami sangat menimbulkan kontroversi di
kelas, tak heranlah jika aku harus sedikit dijauhi dengan teman-temanku, kan
aku yang pertama kali berhasil dapet nomer telponnya, aku cuek saja dengan itu.
3 bulan mungkin sudah keakrabanku dengannya, dan tumbuhlah rasa-rasa yang beda
saat sebelum dekat dan sesudah dekat dengannya. Aku mulai berfikiran untuk
segera mengungkapkan kata cinta di hadapannya, harus memutar otak sampai
seratus bahkan ribuan kali jika aku bertekad untuk menembaknya. Lupakan
soal tembak-menembak dulu, dan lebih ke tahap PDKT dulu, tapi sudah
beberapa bulan berlalu kenapa dia masih cuek ?mungkin dia belum merasakan
getaran-getaran rasaku padanya.
“Putri”.Aku beranikan diri untuk menegurnya.
“Apa ?”. Dia menjawab teguranku.
“Belakangan ini kita sangat dekat ya ?”. Tanyaku.
“Iya, emang kenapa kok tanya gitu ?”. Jawabnya.
“Aku suka kamu, apa aku boleh ?”. Tanyaku lagi.
Tak kusangka pertanyaanku tadi membuatnya tersipu
malu, aku sangat mengharapkan jawaban “iya” yang keluar dari mulutnya. Selang
beberapa menit terdiam tanpa kata,
“Ma’af ya, aku nggak bisa secepat ini, mungkin kamu
harus menunggu”.Jawabnya.
“Oh, gitu ya, terus harus berapa saat aku harus
menunggu ?”. Kataku dengan sedih namun mesih berusaha untuk mendapatkannya.
“Mungkin harus 3 bulan, apakah kamu sanggup ?”.
Jawabnya.
“Itu mungkin akan menjadi waktu yang sangat lama untuk
mengujiku wahai Putri, aku akan mencoba, tapi jika ditengah-tengah waktuku
untuk menunggu aku harus menyerah, apa kamu tidak menyesal ?”. Tanyaku kembali.
“Mungkin aku harus mencari penggantimu lagi jika harus
bukan kamu yang menjadi pacarku saat ini, kamu tidak apa-apa kan ?”. Tanyanya.
“Baiklah, aku akan mencoba untuk melakukan
permintaanmu dengan sekuat tenaga”.Tegasku.
Mulai saat itu hatiku pecah dan hancur bagai pecahan
kaca pembunuhan Antasari.Aku mungkin terlalu dini untuk mengungkapkan
perasaanku ini, tapi aku tak mau juga jika harus memendam perasaan yang semakin
lama semakin mendesakku untuk mengungkapkan ini. Dan hasilnya kini Nol, semua
sia-sia, tinggal aku harus menunggu 3 bulan untuk mendapatkannya kembali, tapi
jika wanita memberikan waktu untuk calon pasangannya, itu tandanya dia menolak.
Tapi aku harus kuat untuk membuktikan bahwa aku memang suka padanya.
3 bulan lagi aku harus memendam rasa ini, rasa yang
pernah meledak tapi harus gugur lagi dalam luka yang tak mudah untuk kemali
seperti semula.Aku mulai pesimis saat 1 setengah bulan kuharus menunggu.
Di tengah-tengah penantianku untuk mendapatkannya, tuhan
memang maha pemurah. Tuhan mengirimkan bidadari yang tak kalah cantiknya dengan
tuan putri, tak kalah cantiknya dengan Cinderella, mungkin ini kakak Cinderella
yang telah renkarnasi menjadi sosok Cinderella masa kini, yang lebih modern
dibanding dengan Cinderella saat masih jadi upik abu. Awalnya sih sangat
sepele, pertemuanku dengan wanita kedua yang lebih istimewa dibanding dengan
sebelumnya berawal dari tempat cucian baju. Aku nggak kenal dia, tapi dia kenal
aku, mungkin dia dikenalkan dengan temanku yang tak disangka temannya juga,
memang pintar temanku ini, mempertemukan kita dengan cara yang sepele, tentunya
dengan takdir tuhan.
Tak wajar sangat pertemuanku dengan wanita kedua ini,
umunya pria dulu yang mengajak wanita untuk berkenalan, tapi ini tidak, dia
yang mengajakku untuk berkenalan.
“Namaku Ayu”. Ujarnya dengan santun.
“Aku Rangga”. Jawabku dengan malu.
Senang ya bisa berkenalan denganmu, boleh dong minta
nomer teleponnya ?”. Tanyanya.
“Oh iya, aku juga senang berkenalan denganmu, kalau
nomer telepon boleh kok, catat ya . . .”
Oh tuhan, mimpi apa aku semalam, bahwa malam ini kau
pertemukan aku dengan bidadari yang sungguh menawan rupanya, jika dia pengganti
Putri, aku sangat berterima kasih, tapi jika tidak, tolong berilah aku
pengganti yang lebih baik atau persatukanlah aku lagi dengan Putri. Sangat tak
kusangka jika kelihatannya malam yang bisaa, hitam, gelap, sepi dan berkabut
telah menjadi awalku untuk bertemu dengan ciptaan-Mu yang mendekati sempurna
itu.
Mulai saat malam itu, aku lebih memikirkan Ayu
daripada Putri, mungkin Putri sudah terhapuskan dari hidupku untuk menjadi saat malam itu, aku lebih memikirkan Ayu
daripada Putri, mungkin Putri sudah terhapuskan dari hidupku untuk menjadi My
Special Person, dan sudah tergantikan oleh Ayu.
Mulai kumenggali informasi tentang dirinya, dan
kebetulan ada temanku yang satu kelas dengannya. Belum puas kumendengarkan
cerita tentangnya, teleponku berbunyi, tak kusangka jika SMS itu berasal dari Ayu,
sang bidadari itu. Kutinggalkan temanku sesaat untuk saling bertukar pesan
melalui SMS. Rasa yang berbeda mulai muncul, rasa yang lebih dahsyat dibanding
rasa yang pernah tumbuh dihatiku saat aku masih dekat dengan Putri, saat ini
rasanya beda, lebih dahsyat dan lebih menyiksa jika tak bisa untuk dijaga.
Malam selanjutnya lebih indah jika aku harus
bersamanya selalu, fikirku dalam hati.Dan tuhan mendengarnya, setiap malam
kuharus rela keluar lebih awal hanya untuk menemuninya, dan aku suka itu,
dengan itu pula aku bisa mengkodekan isi hatiku bahwa aku mulai punya rasa dengannya.Tapi
aku tidak boleh mengulangi kesalahanku sebelumnya, aku harus mendalami
waktu-waktu PDKT ini dengan serius, aku nggak mau rasa yang special ini harus
berakhir dengan hasil yang sial.
Dengan kekuranganku yang sangat kurang ini, kumencoba
menjadi yang terbaik untuknya, “Jika dengan Jancukpun aku tak bisa
meyakinkanmu, harus dengan air mata mana lagi aku harus mengungkapkannya ?”
itulah kata-kata yang sudah mengakar di otak dan fikiranku.
Tak selang beberapa bulan kemudian, disaksikan malam
yang gelap nan hitam, dan jangkrik-jangkrik yang menghiburku dengan suaranya,
kami, aku dan dia, Rangga dan Ayu telah bersatu dalam ikatan yang lebih serius
lagi, yaitu “berpacaran”. Aku sangat bangga jika harus mengenang masa laluku,
hanya dari Laundry bisa menimbulkan rasa cinta yang mendalam, yang bisa
menyatukan dua insan yang dulunya tidak saling mengenal, yang dulunya tidak
saling mengetahui satu sama lain, dan akhirnya sampai disini harus menjadi
awalan yang sangat special di waktu itu. Dan tak lupa pula terima kasih tuhan,
telah mempersatukan kami.
Hari-hariku bahagia saat kutemukan sebagian diriku
yang telah beberapa tahun kucari namun tiada hasil, tapi dengannyalah aku bisa
merasakan dan membangun kembali kehidupan yang dulu pernah runtuh. Hari demi
hari kujalani perjalanan hubungan hanya dengan telepon, masih belum kupercaya
jika dia sudah menjadi milikku, seperti halnya seorang manusia terdari kaum
bawah merindukan dan ingin meminang anak bangsawan, dia hanya bisa bermimpi,
sama halnya seperti perasaanku saat itu. Tapi satu bulan kujalani waktu
dengannya, kumulai faham rencana tuhan untukku, rencana yang sangat indah yang
belum kubanyangkan sebelumnya.
“Pagi !”
“Pagi juga sayang”
“Sudah makankah kamu sayang ?”
“Belum sayang, maunya kan kamu yang nyuapin”
“Kok gitu sih sayang, aku kan jauh darimu, gimana aku
bisa nglakuin itu ?”
“Nggak perlu sayang, aku kan maunya disuapin dengan
kasih sayangmu !hehehe . . .”
“So sweet banget sih sayang”.Bilangnya dengan
manja-manja.
Hanya dialog itulah yang masih kusimpan dalam telepon
genggamku, kusimpan sebagai pesan indah dari bidadari kiriman tuhan, walaupun
hanya dengan SMS atau pesan singkat, kusenyum-senyum sendiri dibuatnya. Aku
juga yakin kalau itu pula yang dirasakannya saat ini.
. . . beberapa tahun kemudian . . .
. . .
. .
.
Takkusangka jika hubungan kita seawet ini, memang
kepercayaan itulah yang bisa dibuat kunci kami dalam setiap masalah dan cobaan.
“Kepercayaan memang kunci satu-satunya untuk menjaga suatu hubungan agar selalu
harmonis dan semakin manis”, mungkin itu yang kupegang sampai saat ini, nasehat
dari pak tua yang kutemui saat aku masih di jalan dan sendiri, beliau sangat
bijak menurutku, dan kata-kata itulah yang keluar dari bibirnya yang sudah
pucat, sedikit kata tapi penuh makna. Dari tahun ketahun sudah aku jalani
segala tantangan-tantangan cinta, dan kujawab dengan jawaban yang singkat namun
membuat dia percaya akan hal itu.
Ditahun ke-5 sudah kulewati sebagai imam yang
baik untuk makmumnya, dan mungkin pula banyak kesalahan yang pernah kuperbuat
sehingga menimbulkan kata-kata putus, tapi itulah yang membuat kusemakin
belajar untuk menjadi yang terbaik untuknya.The fiveth
Anniversary, itu yang sudah kita lewati beberapa saat lalu, tahun yang
sudah matang untuk jenjang yang lebih serius dalam istilah pacaran, kuputuskan
untuk menawarinya ke jenjang yang lebih dalam dan tinggi lagi, dia bilang “ya”.Aku
sangat senang saat tarian bibirnya mengucapkan kata indah itu, dan kitapun
sepakat untuk tunangan.
Sebelum inginku jalani upacara tunangan dengannya,
entah rencana apalagi yang dibuat tuhan untukku, harapku sangat singkat, aku
ingin tuhan merestui dan melancarkan upacara kami nanti. Tapi waktu berkata
lain, saat dia melanjutkan perjalanan untuk ke sutau tempat dimana itu akan
terjadi, tega-teganya truck bermuatan pasir menyambar kendaraan yang
ditumpanginya hingga mengakibatkan kecelakaan yang cukup fatal.
Kuberlari untuk menjemputnya sebelum sang Izrail
mendahuluiku, ku berlari membawa semobil rumah sakit mini untuk memberikan
pertolongan pertama sebelum kuterlambat melihatnya tersenyum. Diapun diangkat
oleh rumah sakit mini untuk menuju rumah sakit induk.Kumemohon dengan sungguh
agar dia diberikan keselamatan oleh tuhan, sungguh kumemohon dengan sangat atas
permintaan itu. Andaikan nyawaku harus berkorban demi nyawanya akupun sanggup,
asalkan aku bisa melihatnya tersenyum meskipun dari kejauhan sana, tapi
siapalah yang bisa menghentikan bumi berputar? mungkin sang Herculespun tak
bisa menghentikan bunda bulat ini berputar.
“Ya tuhan, aku hambamu ini yang sangat hina, jika
dibandingkan setumpuk sampah, akulah yang paling hina diantara mereka, tapi aku
manusia yang mempunyai hak pinta atas-Mu, bukan aku minta segudang emas yang
bersinar, bukan pula aku minta untuk engkau turunkan hujan uang di dunia ini,
aku hanya inginkan dia bisa tersenyum kembali seperti sejak sebelum ini ya
tuhan, jika engkau kabulkan do’aku yang sangat singkat itu, mungkin aku akan
bersujud untuk terakhir kalinya, dan jika kau ijinkan aku akan menggantikan
tugas malaikat untuk menjunjung bumi ini ya tuhan. Tolonglah hambamu yang penuh
hina ini ya Allah”.Do’aku setiap malam menjelang tidur.
Mungkin tuhan mendengar do’aku, kudiberi kesempatan
untuk melihat senyumnya, tapi hanya senyum ?iya, hanya senyum. Saat kucoba
mengajaknya berbicara, tapi seolah-olah kumengajaknya untuk mengarungi samudra
hindia sendirian, dia sangat kesusahan untuk melakukannya.Aku menyerah dan aku
hanya bisa mempasrahkan hidupnya kepada tuhan, dan aku yakin tuhan punya
rencana yang indah, seindah rencana saat aku dipertemukan dengannya.
Ruang kritis dilewatinya hanya dengan keadaan koma,
masih belum sadar orang yang saat ini kuanggap sebagai bidadari itu, pendarahan
di kepalanya sangat bermasalah dalam kesehatannya saat ini.Dan sayangnya pihak
rumah sakit kehabisan pasokan darah untuk menggantikan darahnya yang sedikit
habis saat menjalani pendarahan besar-besaran.Tuhanpun ikut campur lagi dalam
masalah ini, golongan darahku sangat cocok dengan golongan darah miliknya, tak
ambil waktu lama aku rela menyumbangkan darahku untuknya, apalagi sesuntik
darah, seluruh darahkupun aku rela untuk menyumbangkan kepadanya, asalkan
seperti keinginanku tadi. Tapi dokterpun melarang jika hanya darahku saja yang
didonorkan untuk kesehatannya, alasannya karena bisa membahayakan diriku
sendiri, aku membujuk dokter itu untuk memenuhi segala kekurangan darahnya
dengan darahku, tapi dokter itu bilang tidak boleh, malah aku pernah dibentak
dan hamper dipukul saat aku meminta dokter itu melakukan perbuatan yang sama.
Aku menuruti apak kata dokter itu, toh dia lebih tahu
tentang medis dibandingkan dengan aku yang bangku kulaihpun aku belum akhir, k
uterus memanjatkan do’a dan selalu berdo’a, melainkan agar dia cepat
dibangunkan setelah berminggu-minggu dia terbaring diatas kasur hijau, lebih
tepatnya di rumah sakit. Dia siuman beberapa saat, aku tidak ingin
mengganggunya, aku takut jika aku membuatnya sakit lagi seperti kemarin.Aku
hanya bisa melihat dari kaca jendela rumah sakit dengan tetesan air mata yang
menemaniku disamping ada keluargaku disana.
Saat dia dinyatakan sudah melalui garis koma atau
kritis, akhirnya aku bisa melihatnya tersenyum manis itu, senyuman yang selama
ini aku rindukan, aku belum puas jika dia belum sembuh total. Nasihat dokter
untuk melakukan pengobatan berjalanpun disetujui oleh pihak keluarganya
meskipun dengan biaya yang tak bisa dibilang murah lagi.Sering-sering aku
menyisahkan uang jajanku dan gaji bulananku yang kusadar bahwa tak sebanyak
pengeluaran yang dibutuhkan untuk membantu pengobatannya.
Setelah beberapa minggu aku bahagia karenanya, kuharus
kedua kalinya meneteskan air mata, itu karena jahitannya setelah benturan keras
melawan truck pasir itu kambuh lagi, dia harus dibawa ke rumah sakit untuk
melakukan pengobatan yang lebih lanjut.
Setelah dokter melakukan hasil pemeriksaan dan melihat
hasilnya, dokterpun tak sengaja menyenggol vas bunga yang mungkin kualitas luar
negeri itu hingga terjatuh, dokter itu kaget melihat kondisinya.Kata dokter dia
sebelum terjadi kecelakaan tersebut, dia mengidap penyakit kanker otak, dan
sekarang kanker tersebut sudah memasuki stadium akhir.Aku sudah pasrah untuk
menunggunya bertahan hidup, tapi aku sebagai orang yang paling mencintainya
selain orangtuanya, aku harus menerima dan selalu menanti agar dia bisa sadar
dan sembuh seperti sedia kala.Berbagai pengobatan sudah dicoba untuk
menyembuhkannya, tapi hanya menghambur-hamburkan uang saja, seluruh itu
hasilnya nihil.
Hanya tuhan yang bisa menyembuhkan dan memberikan
karomah untuknya agar bertahan hidup. Hamper setiap malam aku harus selalu
meneteskan air mata ini untuk memohon agar dia hidup, dia harus hidup dan dia
harus hidup.
Tepat pada empat minggu dia berada di rumah sakit, aku
harus menyaksikan pemandangan yang harusnya tidak kusaksikan pada saat itu, aku
harus melihatnya dengan nafas terakhirnya.Samudra Hindiapun akhirnya meluap,
hingga bendungan dan pantainya harus terendam oleh air itu, munkin itu belum
cukup jika harus kubandingkan dengan kesedihanku saat itu.Bisa dibilang sedih
saat itu adalah lebih sedih daripada sahabat kita yang ada di jalur perang. Aku
tak sanggup jika kuharus menjalani kehidupan sehari-hari tanpanya, tapi tuhan
berkata lain soal itu. Aku harus ditinggalnya dalam kesepian dan kesendirian.
Aku harus rela melepaskannya kea lam yang lebih indah meskipun aku sendiri
sulit untuk menghapus memori-memori indah saat kubersamanya. Semua hanya ada
dalam dongeng jika aku harus mendengar dia hidup lagi untuk hidup bersamaku.Dan
semua hanya tinggal kenangan, ku harus bisa menatap sinar mentari saat aku
bangun dalam mimpiku yang sangat buruk ini, dan aku harus percaya jika semua
itu tidak mimpi, dan itu kenyataan. Dan kuharus melanjutkan kulaihku agar bisa
jadi orang sukses dan membuatnya tersenyum di atas sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.